Oleh: Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat)

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hazmah.

DI banyak tempat, ada banyak kesamaan teroris dan negara. Salah satunya adalah TIDAK MENGHARGAI NYAWA MANUSIA. Mereka sama-sama menganggap hilangnya nyawa tanpa alasan yang dibenarkan sebagai hal biasa, dan tragedi berlalu tanpa belasungkawa.

Setelah tragedi, ada hal yang tidak selesai, tapi mulai kita lupakan; tentang akar persoalan, kenapa ada sengketa? Kenapa ada benci yang tak terucapkan? Apa yang mendorong orang tiba-tiba merasa punya hak untuk mematikan? Dan seluruh perasaan tidak saling menerima?

Saya teringat sebuah adegan, seorang perempuan mengenakan Abaya dan cadar hitam, membawa tas ransel memasuki sebuah kereta bawah tanah di Downtown, London. Perlahan, seluruh isi gerbong itu kosong kecuali dia dan seorang lelaki yang tak menaruh curiga.

Abaya dan cadar hitam itu telah cemar. Telah lama ada propaganda bahwa busana semacam itu adalah untuk upacara bunuh diri, maka orang-orang pergi diam-diam untuk menghindari menjadi korban. Padahal jutaan perempuan berbusana yang sama dengan damai menjalankan kehidupan.

Lalu, perempuan seperti di dalam kereta bawah tanah di London itu nampak kemarin di Jakarta, di tengah demonstrasi menuntut keadilan pemilu. Tak ada yang pergi diam-diam. Tapi ia diusir dengan suara keras. Mungkin ia tak mengerti kenapa. Lalu ia dihujani gas air mata.

Perempuan itu pergi dengan tenang, percaya diri dan tak nampak seperti diusir. Katanya ia di tangkap dan diperiksa, ransel yang dibawa di geledah; ada sebuah mushaf Alquran, dan sebotol air mineral. Seperti perempuan bercadar hitam di london itu, mungkin mereka guru TK.

Ini tentang apa sebenarnya? Apa yang sedang kita hadapi? Siapa musuh negara? Perempuan bercadar? Lelaki berjenggot dengan jidat hitam? Yang diduga akan datang menyerang dan mendirikan negara Khilafah? Seperti pengakuan seorang teroris menjelang hari tenang?

Lalu mengapa yang datang dari luar kota lelaki bertato, tidak berpuasa di hari Ramadhan dan menenggak alkohol sebelum kerusuhan? Apakah mereka telah menjadi simpatisan negara Islam? Atau mereka sedang “amaliah” merencanakan makar dan kudeta? Entahlah…

Setelah tragedi, ada kebencian yang tak hilang. Entah siapa yang memasukkan dalam hati mereka penyakit. Sesuatu yang yak hilang, sesuatu yang terus ada dan mencari jalan untuk mengacaukan kehidupan. Teroris itu, sejatinya adalah menciptakan perasaan tidak tenang.

Dan kalau negara mulai menciptakan perasaan tidak tenang, maka kita tahu sekarang terorisme telah berpindah tempat. Atau, semua telah menjadi korban? Kenapa ada perasaan saling curiga? Kenapa tidak saling melihat dengan tenang? Ada apa? Waspadalah !!! ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here