Twitter @Fahrihamzah 18/5/2019

Fahri Hamzah.

SAYA baru saja tiba di Jakarta, dari perjalanan menemani Bung (ada yang usul demikian daripada panggilan “ustadz”) Anis Matta dalam Safari Ramadan ke-5 menemui teman-teman kader dan aktifis Garbi di Semarang. Sebelumnya kami sudah ke Jakarta, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta.

Setahun belakangan, saya sudah keliling hampir seluruh ibukota propinsi dan kota besar, menemui antusiasme Garbiers kepada gerakan yang mengusung gagasan ABI ini sehingga ia disingkat GARBI (Gerakan Arah Baru Indonesia). Gerakan ini diinspirasi banyak oleh Bung Anis Matta.

Saya dan Anis Matta adalah sahabat lama. Saya ketemu lebih dari 1/4 abad lalu di Salemba. Beliau kuliah di LIPIA (cabang Univesitas Jamiat Imam Saudi Arabia) jurusan syariah dan saya mahasiswa FE UI yang saat itu belum pindah ke Depok. Beliau sering ke UI dan pernah mengajar.

Sebagai intelektual, kedekatan saya adalah karena dia pembaca buku yang sangat kuat, semua buku dia baca. Kalau lagi puasa gini, dia baca Quran. Itu membuat konstruksi pikiran beliau menjadi mendalam, kokoh dan sulit ditantang. Menurut saya itu juga yang menciptakan pribadinya.

Setelah ORBA jatuh, Tahun 1998 kami bersama beberapa tokoh lain yang sebagiannya masih ada di PKS mendirikan sebuah partai baru, namanya Partai Keadilan (PK) yang nanti berganti nama menjadi PKS setelah tidak lolos electoral threshold dalam pemilu tahun 1999.

Persahabatan dan diskusi intensif terus terjadi terutama setelah saya menjabat wakil sekjen PKS. Perlu diketahui beliau menjabat sebagai sekjen partai tak lama setelah partai berdiri sampai 2013 ketika PKS ditimpa musibah dan beliau didaulat menjadi presiden secara aklamasi.

Bekerja bersama beliau menyenangkan karena dipenuhi diskusi dan eksperimen tentang banyak hal. Sebelum menjadi presiden beliau sudah sering tampil dalam inovasi termasuk yang akhirnya membawa PKS menjadi partai Islam terbesar pada pemilu 2009 dengan perolehan 57 kursi DPRRI.

Ada yang melihat inovasi Bung Anis Matta dalam mengelola politik itu sebagai keniscayaan sebab parpol adalah pabrik ide dan pemikiran harus banyak inovasi. Tapi ada juga segelintir orang yang ketakutan, sehingga peran beliau disingkirkan melalui sebuah upaya yang kasar.

Singkat cerita, 2019 GARBI lahir. Ia diinspirasi oleh sebuah pidato Bung Ustad Anis Matta yang berjudul Arah Baru Indonesia. Pidato yang disampaikan di hadapan Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA-KAMMI) itu terus menggema dan menjadi bahan diskusi bebas.

Dan tiba-tiba deklarasi demi deklarasi dilakukan di seluruh Indonesia. Saya sering sekali hadir tetapi Bung Anis Matta belum nampak, seolah pidato Arah Baru itu saya yang menyampaikan. Lebih setahun sekarang setelah pidato disampaikan tgl 3 Februari 2018, Bung Anis mulai nampak.

Dulu kalau ditanya, “mengapa tak segera turun menyambut massa”, beliau jawab “biarlah orang-orang mencerna ide-ide terlebih dahulu sebab ide lebih penting” demikian jawabnya. Tapi, hari ini beliau sudah turun dan dalam 5 safari ini gagasan besar Arah Baru Indonesia disampaikan kembali.

Sekian dulu ya, nanti bersambung. Nanti saya akan tulis tentang apa yang menjadi inti gagasan GARBI dan hubungannya dengan situasi sekarang… terima kasih. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here