BERITABUANA, VINA DEL MAR – Pertemuan Menteri Perdagangan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) atau APEC Ministers Responsible for Trade Meeting (MRT) di Cile tahun ini menandai perjalanan APEC selama 30 tahun. Sebagai forum kerja sama ekonomi regional untuk menjaga stabilisasi dan memperkuat tata aturan perdagangan global, APEC memiliki peran penting dalam memberikan dukungan dan masukan pemikiran terhadap Sistem Perdagangan Multilateral.

Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita, saat menghadiri pertemuan MRT dari 17―18 Mei 2019, di Vina del Mar, Valparaiso, Cile, menyatakan secara politis dan ekonomi, forum APEC sangat penting untuk menyuarakan kepentingan nasional dan memperkuat citra positif Indonesia di Kawasan Asia Pasifik. Sebagai tuan rumah, Cile mendorong agenda utama agar APEC meneruskan peran pentingnya dalam memperkuat Sistem Perdagangan Multilateral dan mendorong Integrasi Ekonomi Regional. Hampir seluruh Ekonomi APEC mengekspresikan keprihatinannya sehubungan krisis yang tengah dihadapi World Trade Organization (WTO) saat ini menyangkut pelaksanaan fungsinya sebagai organisasi internasional yang mengatur tata perdagangan global sebagai forum perundingan, monitoring, dan penyelesaian sengketa. Krisis ini mempengaruhi tingkat kepercayaan publik dan bisnis terhadap sistem perdagangan multilateral.

Ekonomi APEC memandang penting upaya kolektif untuk mengembalikan kepercayaan publik dan bisnis terhadap WTO melalui reformasi. Dalam kaitan tersebut, Indonesia menyerukan seluruh Ekonomi APEC untuk bekerja sama menegaskan kembali komitmennya dalam memperkuat sistem perdagangan multilateral di WTO yang berlandaskan pada aturan, bebas, terbuka, adil, transparan, dan inklusif.
“Penguatan WTO perlu dilakukan segera dengan fokus pada penyelesaian isu prioritas seperti mengatasi macetnya proses pemilihan anggota Appellate Body WTO. Peran aktif seluruh ekonomi menjadi kunci keberhasilan reformasi WTO,” lanjut Enggar.

Menyangkut target waktu pencapaian Bogor Goals tahun 2020, Ekonomi APEC sepakat meningkatkan kerja sama memperdalam integrasi ekonomi regional di kawasan Asia Pasifik guna memperlancar perdagangan barang dan jasa serta ivestasi. Sejalan dengan upaya peningkatan integrasi ekonomi, Indonesia mengajak Ekonomi anggota APEC untuk memanfaatkan Industri 4.0. “Konektivitas merupakan kunci dalam pemanfaatan Industri 4.0, yang ditandai dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. APEC perlu memanfaatkan transformasi industri untuk meningkatkan partisipasi seluruh ekonomi dalam rantai nilai global, khususnya keterlibatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), peran wanita dan pengusaha muda,” tutur Enggar.

Ekonomi APEC menyadari bahwa perkembangan teknologi informasi merupakan tulang punggung perkembangan revolusi industri 4.0 yang berdampak luas, baik sektor pemerintah maupun swasta. Pemerintah dituntut untuk lebih dapat menyesuaikan kebijakannya yang dapat mendorong sektor swasta menciptakan model-model bisnis baru yang diyakini dapat memperbesar peluang untuk memanfaatkan teknologi digital secara maksimal. Namun, tantangan juga mengintai. Ketidaksiapan kapasitas institusi ekonomi berkembang dalam memanfaatkan teknologi digital dapat menjadi pemicu semakin melebarnya kesenjangan digital dengan negara maju.

Dalam pertemuan MRT ini, Menteri Perdagangan RI menekankan pentingnya implementasi program kerja APEC dalam ekonomi digital untuk mempersempit gap di antara anggota ekonomi. Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan beragam kondisi serta kebutuhan dan tujuan kebijakan domestik dari masing-masing ekonomi APEC yang mengedepankan inklusivitas dan pembangunan berkelanjutan. (Daf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here