BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR RI Djustiawan Widjaya menyatakan, mobil yang digunakan ke gedung DPR komplek parlemen Senayan bukan mobil miliknya. Dia datang ke kantor diantar temannya sendiri.

“Kalau saya diantar teman, dan saya berkawan dengan teman. Apakah ada larangannya diantar teman saya,” kata pria yang disapa Iwan ini menjawab beritabuana.co lewat pesan WA, Jumat (17/5/2019).

Hal ini dikatakan terkait dengan mobil yang digunakan ke gedung DPR adalah  sebuah mobil Toyota Fortuner warna hitam tetapi  berpelat markas TNI. Mobil ini kerap parkir di halaman gedung Setjen DPR RI, sehingga mengundang perhatian.

Sementara, mobil para pejabat Setjen DPR lainnya terutama para eselon 2 adalah mobil dinas  merek  Honda CRV dengan pelat hitam yang lazim digunakan oleh para pejabat aparatur sipil negara (ASN) seperti B xxx RFT atau B xxx RFZ maupun B xxx RFQ.

Beritabuana.co mendapat informasi bahwa kendaraan berpelat markas TNI yang parkir di depan gedung Setjen DPR adalah milik Kepala Biro Umum. Beberapa kali beritabuana.co melihat mobil tersebut  terparkir di depan gedung Setjen DPR.

Bahkan, Iwan terlihat memasuki mobil tersebut saat meninggalkan gedung DPR dengan mendapat pengawalan dari anak buahnya, anggota pengamanan dalam (Pamdal) Setjen DPR berseragam safari.

Menjawab pertanyaan, Iwan yang pernah menjabat Kepala Bagian (Kabag) Pemberitaan dan Kabag Risalah ini tidak menjelaskan identitas kawan yang mengantarnya dengan mobil pelat markas TNI itu adalah anggota TNI atau bukan. Tetapi dia hanya menyatakan kalau dirinya mau berkawan dengan siapapun.

“Saya mau berkawan dengan siapa pun,” tukas Iwan.

Mantan KSAD Jenderal TNI Mulyono pernah mengungkapkan kekesalannya setelah mengetahui maraknya kendaraan sipil menggunakan pelat militer. Disebut, salah satu penyebabnya adalah bantuan pertemanan dari anggota TNI.

Komandan Pomdam Jaya Kolonel Com Hendi Hendra ketika itu menyatakan, itu terjadi karena  biasanya pertemanan yang dekelat.

“Misalnya saya temen dekat anggota TNI, daerah saya nggak aman, minta tolong (untuk dibuatkan pelat mobil TNI). Tapi sekarang kan sudah nggak boleh. Sudah dilarang itu,” ungkap Hendi Hendra kepada wartawan detikcom, Senin (28/9/2015) silam. (Ndus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here