BERITABUANA.CO, MEDAN – Menteri hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly tiba di Lapas Narkotika Kelas III Langkat, Sumatera Utara, Sabtu (18/5/2019) sekitar pukul 11.45 WIB. Yasonna dan rombongan berkunjung ke Lapas untuk melakukan pertemuan dengan para warga binaan dan pegawai lapas, pasca peristiwa kerusuhan yang terjadi di lapas narkotika kelas III Langkat, pada Kamis (16/5/2019) lalu.

Tiba di Lapas Langkat, Yasona Laoly yang didampingi Ditjen Pemasyarakatan RI Sri Puguh Budi Utami dan Kakanwil Kemenkumham Sumut Dewa Putu Gede, mengakui peristiwa kerusuhan di lapas narkotika kelas III Langkat persis dengan peristiwa yang terjadi di Siak.

Atas kejadian tersebut, Yasonna telah menonaktifkan pimpinan Kalapas dan Karutan besrta seluruh pegawai Lapas dan Rutan serta menunjuk pelaksana harian. Diperediksi jumlah total pegawai di lapas kelas III Langkat 69 orang, dan dengan petugas pengamanan 52 orang.

“Mulai hari ini sudah nonaktif dan tidak semua tidak hanya kalapas, dan karutan namun semua yang ada disini. Saya dengar tadi pungli dan lain – lain semua diangkat. Semua bedol desa. Dan jangan masuk di lapas dan rutan dulu. Ini orang berbahaya kalo dimasukkan lagi ke situ. Penyakit,” kata Yasonna.

Lanjutnya, secara bertahap pihaknya akan melakukan, termasuk akan membuat koperasi, soal air juga karena baru ada dua Sumur bor.

“Terus PB nya kapan dia mulai bebas. Kita memang sudah punya remisi sistem online hanya ini harus betul-betul diperhatikan buk Dirjen pengiriman elektronik dari sini ke Jakarta harus betul-betul online jangan main antar-antar dan pastikan,” katanya.

Begitu juga pembakaran sejumlah fasilitas dan kendaraan di lapas, menurut Yasonna, adalah milik seluruh pegawai Lapas. Pihaknya akan menelusuri oknum yang melakukan pembakaran tersebut. Bahkan sejumlah sanksi juga telah disiapkan mulai dari pembatalan remisi bagi warga binaan.

“Itu bukan milik kita, milik pegawai tiga mobil dan 16 motor pegawai di dalam. Itu, mudah-mudahan mereka punya asuransi. Pertama, kita tenangkan dahulu, baru masuk tahap penyelidikan. Yang melakukan pembakaran tidak akan diberikan remisi. Kalo dia nanti perbuatannya kriminal ya polisi urusannya. Apalagi yang membakar itu. Boleh kamu lari keluar tapi membakar itu kesalahan dan tidak bisa,” ucap Yasonna.

Terkait masih ada sejumlah napi yang dengan bebas menggunakan alat komunikasi saat terjadi kericuhan, dikatakan Yasonna hal ini sudah lama diingatkan kepada pegawai untuk melakukan pengawasan yang ketat terutama saat jam kunjungan.

“Termasuk sejumlah napi yang bawa alat komunikasi akan kita datangkan itu. Makanya semua mereka ini dibuang ya. Itu tidak bisa. Dari dulu kita katakan bersihkan bersihkan! Tapi kalo mental pegawainya sudah begitu, sudah rusak dah. Sekarang harus keras. Dari dulu sampai kini terus persoalan itu berulang. Maknanya ini pelajaran dan ini akan dibuat surat edaran yang kemarin sudah dibuat oleh Ditjen bila perlu buat penguatan yang pas. Kakanwil juga akan melakukan itu ke semua jajaran UPT yang ada,” ucapnya.

Diakui Yasonna, tindakan tegas yang dilakukan pegawai lapas dalam melakukan razia narkoba benar adanya. Namun, yang didayangkan Laoly adalah tindakan kekerasan pegawai terhadap napi tersebut.

“Memang ada kekerasan yang dilakukan, memang di dalam penggeledahan memang ada ditemukan narkoba. Memang itu penemuan narkoba harus ditindaklanjuti itu benar. Yang tidak benar adalah perbuatan yang eksessif untuk memaksa mengaku siapa saja jaringan di dalam itu sampai melakukan penganiayaan. Yang dilihat oleh warga binaan yang menimbulkan emosional mendalam,” ucapnya Yasonna.

Akibat peristiwa tersebut Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika kelas III lLangkat, Buchori Sitepu sementara ini dinonaktifkan dari jabatannya. Sebagai penggantinya sementara ini kakanwil Kemenkumham Sumut menunjuk M Tavip sebagai pelaksana harian kalapas narkotika kelas III Langkat. M Tavip sebelumnya menjabat kepala bidang pembinaan bimbingan dan teknologi informasi Kemenkumham. 

Sementara untuk proses besok desa sendiri akan dilakukan secepatnya dengan menyiapkan pegawai baru dari lapas dan rutan.

Dari informasi Kakanwil Kemenkumham Sumut dari total jumlah napi penghuni lapas 1.634 orang. Saat ini yang berada di dalam lapas 1.459, satu diantaranya dirawat di RSUD Tanjung Pura.

Sementara total napi yang kabur saat peristiwa kerusuhan diprediksi 176 napi, 113 diamankan dan 63 masih proses pengejaran lapas dan aparat keamanan.

Dari 113 tahanan saat ini dipindahkan di Lapas Binjai 44 orang, rutan Tanjung pura 62 orang, Lapas Tanjungbalai 1 orang, lapas 1 Medan 1 orang, rutan Brandan 3 orang, Lapas pemuda 1 orang, Polsek Hinai 1 orang.

Informasi yang diperoleh pagi tadi, 1 orang napi menyerahkan diri ke Lapas Narkotika Langkat pada pukul 09.51 WIB. Dan hari ini ada satu orang napi dibebaskan atas nama Redi Taluhoni yang habis menjalankan pidana 17 Mei 2019 pada pukul 15.42 WIB.

Terkait peristiwa tersebut lapas narkotika kelas III Langkat menerima layanan kunjungan selama bulan Ramadhan yakni pagi hari mulai pukul 10.00 – 11.00 WIB.  Dan siang hari pukul 13.30 – 14.30 WIB. Pada pagi tadi ada 27 jumlah pengunjung yang menjenguk warga binaan. (Ndus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here