* Oleh: Gus Muhammad Nur Hayid

Teman adalah kebutuhan yang tak bisa kita tolak. Karena berteman itu merupakan wujud nyata kita ini mahluk sosial. Orang yang tak berteman tidak akan pernah menjadi manusia seutuhnya. Bagaimana cara berteman dalam Islam?.

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Ghozali membagi manusia dalam 3 kategori. Pertama, manusia itu seperti makanan. Kita tidak mungkin bisa melepaskan diri dari makanan selama kita masih bernyawa. Artinya, sebagai mahluk sosial, tidak tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Maka, berahlaklah yang baik agar kita bisa mendapatkan asupan makanan yang baik melalui muasaroh kita dengan ahlak yang mulia.

Kedua, manusia itu ada yang seperti obat fungsinya. Kadang kita butuh saat kita sakit dan kadang kita harus menjauhi obat agar tidak over dosis. Dalam konteks ini, pastikan jangan salah memilih teman sebagaimana jangan salah diagnosa penyakit dan akhirnya salah minum obat.

Kalau kita salah memilih teman sama dengan salah minum obat, bukanya badan sehat yang kita rasakan, tetapi justru bisa keracunan. Begitu juga saat kita salah memilih sahabat atau teman, bukannya kemaslahatan dan kemanfaatan yang kita peroleh, tetapi justru madhorot dan bahaya yang akan kita rasakan.

Ketiga, manusia itu seperti penyakit. Jauhilah tipe yang ketiga ini. Maka tidak ada pilihan, jangan cari manusia model ini sebagai kawan atau teman. Sebab, selain pasti akan merusak diri kita juga pasti akan menularkan keburukannya kepada orang lain.

Sebagaimana penyakit yang akan menularkan kepada orang lain kalau kita tidak menjauhi dan mencegahnya.

Namun tipe ketiga ini tidak bisa kita hindari karena itu bentuk ujian dari Allah SWT. Sebagaimana penyakit juga tidak bisa kita hindari pasti akan ada untuk menguji kita sebagai manusia yang mengaku beriman kepada Allah.

Hanya saja caranya, kalau kita tau dia ini penyakit, ya jangan didekati, jauhi dan kalau bisa ya dibasmi. Bukan manusianya yang dibasmi, tapi akhlak dan prilakunya yang menjadi penyakit menular itulah yang harus kita basmi.

Di era media sosial (medsos) yang sangat terbuka ini, kita bisa mencari sendiri tipologi manusia yang disebutkan Imam Ghozali di atas. Pilihan tinggal kita sendiri, mau milih sahabat dan teman yang kita butuh setiap saat karena mampu membawa kekuatan dan energi yang baik, atau mau memilih penyakit yang akan menggerogoti diri kita hingga tumbang tanpa manfaat hidup di atas muka bumi ini.

Tentu orang yang waras akan memilih yang pertama dibanding yang ketiga. Dan golongan orang-orang yang pertama itu adalah golong orang-orang yang soleh, alim, tawadhu’ dan penuh rahmah dan cinta yang jauh dari sikap sombong, benere dewe alias maunya menang sendiri.

Bukan model orang-orang yang suka mencaci maki dan menebar hoaks, suka menghina dan merendahakan orang lain karena kesombongannya. Bukan pula model orang yang suka bidahin orang lain, bahkan berani mengkafirkan orang lain. Karena golongan ini adalah golongan manusia yang ketiga yaitu penyakit menular yang sangat berbahaya dan harus diberantas agar masyarakat menjadi sehat.

Nabi Isa AS pernah ditanya soal bagaimana beliau belajar adab, tata krama dan akhlak yang mulia? Beliau menjawab, tidak pernah belajar dari siapapun dan diajari oleh seseorangpun. Tetapi Nabi Isa belajar akhlaq dan adab itu dari bodohnya orang-bodoh yang tidak mau memperbaiki diri. Lalu beliau menjauhi sikap para juhala itu alias tak mau mencontohnya.

Dengan menghindari sikap yang dibenci orang lain, dan tidak meniru kelakuan oranh-orang bodoh itu, sebenarnya cara belajar adab yang paling sederhana dan gampang, demikian kata Imam Ghozali. Sekarang bagaimana dengan kita?

Masihkan kita ikuti prilaku orang-orang yang tak paham agama lalu menyerukan jihad dan meniru prilaku orang-orang bodoh yang setiap saat menghina siapapun yang berbeda dengan dirinya? Jawabannya adalah, itulah potret kita sesungguhnya. Menjadi bodoh bersama juhala atau keluar dari mereka menjadi orang-orang yang waras.

Saatnya kita jadikan medsos kita medsos yang sehat dan waras. Jangan jadikan medsos kita sebagai alat penebar fitnah, hoaks dan adu domba. Orang jawa bilang, becik.ketitik olo ketoro. Apa yang kita tulis akan jadi cacatan pribadi kita di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak saat kita mempertanggungkawabkan semua itu dihadapan sang kholiq. (Alexandria, Mesir)

(* Gus Muhammad Nur Hayid, Pimpinan Rombongan Tadribu Da’i dan Imam di Al Azhar, Mesir dan Pengasuh Pesantren Skill Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here