* Oleh: Gus Muhammad Nur Hayid

RAMADHAN adalah momentum perbaikan diri secara total. Perbaikan mental dan spiritual sekaligus perbaikan pola hidup dan pola makan untuk menjaga kesehatan lahir dan batin seutuhnya. Maka barang siapa yang sadar dan ihlas menjadikan ramadhan sebagai bulan perbaikan diri, dia akan menjadi baik.

Sebaliknya, siapa yang bermain-main alias tidak sungguh-sungguh dengan bulan ramadhan ini, dia tidak akan merasakan keberkahan bulan ini dan hanya akan menyesal di kemudian hari. Karena telah menyia-siakan kesempatan berharga ini.

Ayo kita isi ramadhan kali ini dengan komitmen memperbaiki diri dengan menjaga kesabaran dan kemampuan menahan diri dengan ibadah puasa. Kita menjaga lisan dan tangan kita dari berbuat dholim dan aniaya dengan menjauhi penyebaran hoaks dan menghindari ghibah dan namimah serta permusuhan dan adu domba.

Selain itu, mari kita mengisi hari-hari kita dengan tadarus dan tadabbur quran serta terus berlatih wushul alias terus nyambung dengan Allah swt melalui sholat, baik sholat wajib maupun sunnah termasuk taraweh dan kita jaga dzikir-dzikir kita setiap saat dan waktu dengan tasbih, tahmid, takbir, tahlil dan salawat kepada rasulullah selain istigfar tentunya.

Terakhir, karena Ramadhan adalah bulan penuh solidaritas, mari kita latih diri kita untuk membangun solidaritas dan komitmen ukhuwah (persaudaraan) dengan sesama mahluk Allah. Tidak hanya kepada sesama muslim dan umat manusia kita saling hormat dan menghargai, termasuk kepada semua mahluk Allah yang lain seperti binatang dan tumbuhan.

Wujud penghormatan itu adalah dengan tidak menyakiti dan mendholimi mereka, serta komitmen untuk membantu setiap mahluk yang membutuhkan uluran tangan kita. Jika kita bisa melakukan restart komitmen dan niat dan bisa mengimplementasikan ini semua di awal ramadan dan selama bulan suci ramadhan, insyallah kita akan kembali menjadi manusia-manusia mulia yang diliputi cahaya keridloan Allah.

Kalau kita sudah bisa menjadi hamba yang sejati dari sang kholiq, kita akan mampu menembus dimensi ‘langit’, sehingga kita akan selalu bahagia bagaimanapun kondisinya, karena kita sudah mendapatkan pancaran ilahiyah. Orang-orang yang demikian ini, tempatnya tak lain insyallah kemulian dunia dengan kebahagiaan dan ketenangan hidup, dan kemulian akherat dengan dimasukkan di surganya Allah SWT. Amien. Alfatehah. Ramadhan Kariem …Wallahu Akrom …

(* Gus Muhammad Nur Hayid, Pimpinan Rombongan Tadribu Da’i dan Imam di Al Azhar dan Pengasuh Pesantren Skill Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here