BERITABUANA.CO, JAKARTA – Tersangka kasus suap jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag), Romahurmuziy alias Rommy kembali menghuni kamar tahananya di rumah tahanan (rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, setelah pulih dari sakitnya usai d rawat di RS Polri, Jakarta.

Demikian disampaikan Kepala Biro Humas yang juga juru bicara KPK, Febri Diansyah kepada awak media di Gedung KPK Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Febri mengatakan, kondisi tersangka mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy sudah membaik usai dirawat di Rumah Sakit (RS) Polri, Jakarta. Oleh karena itu, KPK mencabut pembantaran penahanan Romahurmuziy di RS Polri.

“Iya, setelah dokter atau pihak RS simpulkan tidak perlu rawat inap lagi, pembantaran dicabut. KPK kemudian bawa RMY (Romahurmuziy) kembali ke rutan,” katanya.

Febri pun menyebut Rommy saat ini sudah dalam kondisi yang cukup baik, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh tim yang bertugas di rutan.

“Tadi (Rmmy) bisa berjalan, sudah sarapan dan melakukan kegiatan lain. Yang bersangkutan juga sudah mengonsumsi obat-obatan yang diberikan pihak RS Polri,” beber dia.

Romahurmuziy adalah tersangka kasus dugaan suap terkait seleksi jabatan di lingkungan Kementerian Agama RI.

Seperti yang diketahui dalam kasus ini KPK telah menetapkan 3 orang sebagai tersangka yaitu anggota DPR periode 2014-2019 dan Ketum PPP Muhammad Romahurmuziy (RMY), diduga sebagai tersangka penerima suap.

Dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi (MFQ), serta Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur Haris Hasanuddin (HRS) yang diduga sebagai tersangka pemberi suap.

Dalam kasus ini KPK menduga Romi bersama-sama dengan pihak Kementerian Agama RI menerima suap untuk mempengaruhi hasil seleksi jabatan pimpinan tinggi di Kementerian Agama RI, yaitu Kepala Kantor Kemenag Kab Gresik dan Kepala Kantor Wilayaj Kemenag Provinsi Jawa Timur.

KPK menduga Romi menerima uang senilai Rp 300 juta dengan rincian dari tersangka Haris sebesari Rp 250 juta dan tersangka Muafaq sebesar Rp 50 juta.

Uang tersebut diduga untuk mempengaruhi dan memproses seleksi jabatan tinggi di Kementerian Agama guna kedua tersangka tersebut mendapatkan jabatan yang diinginkan. (Isa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here