BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pameran Otomotif Telkomsel Indonesia International Motor Show 2019 (IIMS). mulai 25 April hingga 5 Mei 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, secara sermi dibuka Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. kamis (25/4).

Pameran ini tidak hanya sekedar pameran otomotif berskala internasional melainkan medium yang tepat bagi ekosistem industri otomotif di Indonesia untuk melakukan edukasi kepada pengunjung, memacu kegiatan bisnis bersama para stakeholder. serta sarana rekreasi bagi keluarga, demikian diungkapkan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat memberikan sambutan pembukaan pameran, kamis (25/4)

“Kinerja industri otomotif tahun 2018 menunjukan capaian – capaian yang cukup menggembirakan diantaranya produksi kendaraan roda 4 atau lebih tahun 2018 mencapai 1,34 juta unit atau setara 13,76 miliar USD, dengan ekspor sebesar 346 ribu unit atau setara 4,78 miliar USD di tahun yang sama,” tambah Airlangga Hartarto.

Lebih lanjur Airlangga juga menjlasakan kalau Industri otomotif nasional sebagai salah satu sektor andalan dalam roadmap Making Indonesia 4.0, ditargetkan pada tahun 2030 dapat menjadi basis produksi kendaraan bermotor Internal Combustion Engine (ICE) maupun Electrified Vehicle untuk pasar domestik maupun ekspor dengan didukung oleh kemampuan industri dalam negeri dalam memproduksi bahan baku dan komponen utama serta optimalisasi produktivitas sepanjang rantai nilai industri tersebut.

“Dalam roadmap pengembangan industri kendaraan bermotor, Pemerintah mentargetkan bahwa pada tahun 2025, maka 20% dari total produksi Kendaraan Baru di Indonesia sudah berteknologi Electrified sehingga dapat mendukung komitmen Pemerintah Indonesia untuk dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2) sebesar 29% pada tahun 2030 tanpa bantuan internasional, sekaligus menjaga kemandirian energi nasional,” jelas Airlangga.

Pemerintah telah mempersiapkan program pengembangan kendaraan emisi karbon rendah atau kami biasa menyebutnya Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Program ini terdiri dari 3 sub program yaitu Kendaran Hemat Energi Harga Terjangkau (LCGC), Electrified Vehicle dan Flexy Engine.

“Namun, tentunya banyak tantangan yang harus kita carikan solusinya dalam rangka memperkenalkan program kendaraan ramah lingkungan ini, diantaranya terkait penerimaan masyarakat terhadap kendaraan electrified vehicle, kenyamanan berkendara, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, adopsi teknologi dan regulasi, dan juga termasuk dukungan kebijakan baik fiskal maupun non-fiskal agar kendaraan electrified vehicle dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tanpa harus dibebani biaya tambahan yang tinggi.” Tutup Airlangga.(Lsw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here