BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ketua Perkumpulan Swing Voters Adhi Massardi menilai banyak anggota KPPS yang meninggal dunia hingga mencapai 144 orang seluruh Indonesia, adalah bentuk kelalaian KPU. Ia pun menyayangkan kejadian memilukan dianggap biasa saja.

“Ini luar biasa lo. Baru tahun ini saja angka meninggal dunia mencapai ratusan orang. Sebelum-sebelumnya tidak ada. Saya aneh pemerintah menganggap hal yang biasa,” kata Adhie Massardi dalam suatu diskusi di Forum Tebet, Jakarta Selatan (25/4/2019).

Adhie yang tampil sebagai pembicara itu, didamping dua pembicara lainnya, seorang dokter ahli bedah vasculer, dokter Fatrianev dan dokter spesialis paru-paru dokter Benny Oktavianus, menyesalkan kejadian yang memilukan itu.

“Saya melihat hal yang luar biasa. Orang-orang yang berjuang untuk demokrasi, karena kelehan fisik dan fsikis harus meninggal dunia,” tandas Adhie.

Dokter ahli bedah vasculer, Fatrianev menerangkan hal itu, menyebut faktor utama orang itu meninggal adalah kelelahan. Namun tak menutup kemungkinan juga ada beban berat pada orang meninggal itu.

“Lelah ditambah stres. Ini yang berat. Dan dapat menyebabkan kematian. Saya sarankan seharusnya KPU itu mengambil orang-orang yang lebih muda,” kata Fatrianev.

“KPU harusnya peduli. Tapi sekarang saya juga tak paham. KPU nampaknya berdiam saja. Seolah tak peduli. Proteksi asuransi aja tidak ada,” katanya lagi.

Dokter Oktavianus meminta kepada KPU, sudah harus penduli. Mereka harus melakukan pencegahan dengan bekerjasama dengan IDI. Masalahnya, kejadian kematian ini sudah sangat luar biasa.

Data yang saya terima di Sulsel 191 sakit, 1 orang meninggal dunia. Jawa Tengah 25 meninggal dunia. Jawa Barat 38 orang meninggal dunia.

“Mereka meninggal dugaan saya karena beban berat. Tubuh tak kuat, dipaksa terus bekerja, maka meninggal. Ke depan KPU harus mengatur kerja petugasnya lebih cermat lagi,” katanya. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here