SAYA membaca secara budaya saja, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di pulau Jawa, bahwa kita itu mendapati ada satu idiom atau pamio Ngalah, Ngalih, Ngamuk. Tiga suku kata ini yang akan dihadapi dan akan dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Jadi, hati-hati dengan apa yang terjadi sekarang. Bahwa apa yang sudah terjadi sekarang ini muncul tanda-tandanya bahwa masyarakat sedang bersikap. Dan apa yang kita lihat atas sikap itu;

Ngalah. Pada awal kita melihat tanggal 17 April — kita diam. Bila bisa diartikan, OK, kita dicurangi dan mengalah.

Tetapi saat dia sudah mengalah kemudian dia diganggu lagi, karena proses nya sampai tanggal 22 Mei ini, maka yang akan muncul dia tak ada ngalah tetapi dia sudah mulai Ngalih. Dan itu sudah mulai kelihatan.

Dari proses Ngalah kearah Ngalih, kelihatan paling tidak, adanya dua provinsi yang di dalam quick count, yang dilakukan  tidak oleh survei-survei yang ada. Katakanlah di pihak mendukung pemerintah, mereka mengatakan survei tersebut mereka mengatakan quick count di Aceh dan Sumatera Barat voters untuk 01 tidak sampai diposisi 8-10 %.

Ini harus hati-hati, kami mendapatkan data tersebut dan data itu kita peroleh dari mana mana. Ini adalah kata refleksi dari kata Ngalah menuju Ngalih.

Pada Pase itulah sebenarnya muncul satu sikap. Istilah orang jawa mengatakan Monggo. Karena setelah ngalah, ngalih maka pada titik yang ketiga nanti ini akan muncul Ngamuk. Semestinya jangan sampai mengalami Pase itu.

Saya berdoa sekuat tenaga, semoga negara kita jangan sampai mengalami itu, karena jika itu terjadi, jelas yang menanggung semua akibat adalah rakyat Indonesia.

Kalau kita masuk apa yang kita sebut wayang atau bayang bayang kehidupan, sebenarnya kejadian sekarang ini hampir sama dengan Pase Pandowo Dadu.

Pendowo Dadu itu adalah proses bagaimana satu pertempuran, persaingan antara Pandawa dan Kurawa.

Dimana Pandawa dan Kurawa tersebut semula pihak Pandawa Ngalah. Mereka yang tinggal di Astina Pure, dan membangun yang namanya Indra Prasta dan berhasil dibangun dan Indah sekali dan membuat iri semua orang.

Keberadaan Indra Prasta membuat para  kurawa tidak puas, maka disinilah muncul arsitek yang nama Sengkuni. Pandawa pun dijebak.

Jebakannya, berupa bermain dadu. Seakan akan semuanya di buat oke, istilahnya, “Elu Ambi, Gua Ambil”. Tetapi sebetulnya ada sebuah permainan, permainan pertama Pandawa menang, kedua pandawa menang, ketiga Pandawa menang

Permainan ke empat, Pandawa mulai kalah, kalau satu, dua, tiga. Artinya semua tentara Pandawa dipertaruhkan.

Disinilah mulai muncul kalah, kemudian berikutnya adik adik Pandawa kalah dipertaruhkan.

Terakhir istri dari Pandawa yang namanya Drupadi dan harga dirinya dipertaruhkan dan dia kalah. Kekalahan itu apa, Kurawa mengatakan anda sudah tidak berhak lagi tinggal di Indra Prasta, anda harus keluar.

Ini yang menjadi hal yang perlu kita cermati, lebih berat lagi selama 12 tahun dia harus ke hutan dan tak boleh ditemui oleh siapapun yang dari sosok Kurawa.

Menjadi menarik disini adalah, ini menjadi sebuah awal terjadinya Barata Yuda.

Jadi esensinya yang semua saya sampaikan adalah, kejujuran, keluguan, ketaatan didalam mengikuti aturan dikalahkan oleh kelicikan.

Banang merah dari semua ini adalah, Dewi Drupadi minta dan bersumpah, “aku ga terima dipermalukan oleh Dursasana (adik dari Duryodhana), dimana dia mencoba menelanjangi Drupadi.

Kemudian muncul Kresno ada dibelakang semua ini. Kresno bisa memenangkan, kain yang ditarik tak pernah berhenti dan tetap tak bisa diperlakukan tak senonoh itu.

*Bambang* (Pengamat Kosmologi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here