BERITABUANA.CO, JAKARTA – Praktisi media Arief Gunawan melihat jika hasil pilpres saat ini sudah mengarah kepada hal-hal yang tidak bisa diterima oleh rakyat pemilih, karena merasa dicurangi, atau suara dicuri, maka resiko yang ada dalam bayangannya, akan menimbulkan trauma politik.

“Dalam perjalanan bangsa kita, kita sudah mengalami beberapa kali trauma politik, ini istilah saya saja sebagai wartawan,” kata wartawan senior ini di Tebet, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019).

Ditambahkan Arief, tahun 1965, Indonesia sudah mengalami eksek dari trauma politik itu, di mana terjadi Cheos dan berdarah darah, segala macam. Kemudian Tahun ’98 hal serupa juga terjadi, dan traumatik.

Nah, saat ini pun, menurut Arief, dirinya pun merasa khawatir terulang trauma- trauma seperti itu, kalau gambaranya seperti itu maka menjadi ingat zaman kerajaan tempo dulu, yang feodal dan tidak bisa berdemokrasi suksesi di kerajaan kerajaan itu.

“Kita umumnya juga ada suksesi melalui cara yang berdarah-darah, perang tahta, perang antara pangeran dengan pangeran saling tikam dan bermacam macam. Apakah model “demokrasi” yang seperti itu yang yang diberlakukan oleh elit kekuasaan,” kata Ketua Perkumpulan Wartawan Indonesia Pro Demokrasi (PWI PD) ini.

Kemudian, melihat situasi sekarang ini, dengan cara demokrasi yang seperti ini, negara mau di bawa kemana, dan mau bertanya juga mau diserahkan kepada siapa negara ini?

Kan, sambung Arief, landasan negara kalau dilihat ke belakang sudah jelas pendiri bangsa itu ada konstitusi. Landasannya itu sudah jelas inilah aturan mainnya.
Tetapi banyak pelintirannya dan banyak tikungannya.

“Kalau kita urut perjalanan demokrasi kita sampai hari ini, 73 tahun kita merdeka kalau ditanya apakah hasilnya belajar demokrasi, ya hasilnya, Saya khawatir berhenti sampai di sini doang, mudah-mudahan Jangan berhenti model seperti ini, mudah-mudahan lebih baik kedepannya,” tutup Arief. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here