BERITABUANA.CO, LUMAJANG- Polres Lumajang tidak main-main dalam memerangi maraknya pencurian sapi di wilayah hukumnya. Pencurian sapi yang menjadi momok puluhan tahun di Lumajang kini menjadi prioritas dalam pemberantasannya.

Data dari Polres Lumajang sendiri telah terjadi 103 kali pencurian sapi yang dilaporkan selama tahun 2018. Namun demikian, diperkirakan masih banyak kejadian yang tidak dilaporkan oleh korban karena sebagian besar masyarakat enggan melaporkan kejadian pencurian sapi karena beberapa faktor seperti adanya intimidasi dari pelaku, korban menunggu tawaran tebusan dari pelaku, dan juga anggapan kurang responsifnya aparat dalam membantu mengungkap pencurian sapi.

Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban pun menyatakan perang kepada pada pencuri sapi. “Saya tidak main-main dalam usaha memutus mata rantai pencurian sapi di Lumajang. Saya nyatakan perang kepada para pencuri sapi,” kata Arsal lewat keterangannya.

“Semua cara akan saya gunakan, para pelaku boleh memiliki seribu cara menyembunyikan kejahatannya, tapi saya punya sejuta cara untuk menggungkap dan memutus mata rantai pencurian sapi di Lumajang,” sambungnya.

Secara preventif, lanjut Arsal pihaknya telah gelorakan program 3 lapis keamanan. Yaitu lapis pertama program komunitas rantai sapi, sebagai bentuk tanggung jawab pribadi para pemilik sapi.

Kemudian lapis kedua program garasi ternak, dimana sapi dalam 1 RT dikumpulkan dalam 1 kandang bersama dan juga diawasi bersama. Sedangkan, lapis ketiga program pembentukan Satgas Keamanan Desa, yang mana program SKD ini merupakan penyelesaian komprehensif mengatasi masalah-masalah kamtibmas di tiap Desa, termasuk masalah pencurian sapi.

Ia pun menjelaskan, saat ini Satgas Keamanan Desa sudah terbentuk di 198 desa dengan jumlah personil mencapai 5.940 orang yang merupakan relawan – relawan keamanan yang tidak digaji.

Selain itu secara represif, Polres jugq siapkan anjing pelacak dan penggunaan drone untuk melacak keberadaan pencuri sapi, dan setiap 1 kali pencurian sapi saya akan lakukan penggrebekan kampung selama 1 bulan untuk mempersempit ruang gerak para pelaku pencuri sapi.

“Saya tidak mau tanggung, semua anggota Polres baik Polri maupun PNS saya kerahkan untuk proses grebek kampung tersebut. Seperti yang saya lakukan di desa Salak, Jenggrong, Meninjo, Selok Anyar, dan desa lainnya, 184 personil Polri dan PNS saya libatkan untuk melakukan penggerebekan kampung,” jelas Arsal.

“Program terbaru saya, setiap DPO pencuri sapi maupun pelaku kriminal lainnya akan saya umumkan melalui semua media, baik media sosial, media cetak maupun media elektronik. Saya tidak mau tanggung – tanggung dalam mengumumkan DPO di media elektronik, yang saya gunakan langsung adalah TV Nasional. Seperti 3 DPO pencuri sapi di Selok Awar-awar,” tegasnya.

Diketahui bahwa Tim Cobra Polres Lumajang berhasil mengungkap sindikat pencurian sapi diwilayah Desa Bades Kec. Pasirian dengan total 9 pelaku, dimana 6 pelaku berhasil tertangkap sedangkan 3 pelaku masih DPO. Adapun ke-3 DPO pelaku pencuri sapi tersebut Neran, Nesab, dan Ainul.

Tangkap Pelaku

Terpisah, Tim Cobra Polres Lumajang berhasil menangkap pelalu curanmor di Dusun Pondok Asri, Desa Kedungrejo, Rowokangkung, Lumajang.

Tersangka atas nama Fathur, Dusun Krajan Desa Tekung, Tekung, Lumajang. Dirinya ditangkap pada 20 April 2019 karena memboyong sepeda motor merk Juve warna hitam Nopol N-4397-YJ milik Riyanto

Tim Cobra harus melakukan upaya paksa dengan menembak kaki dalam penangkapan Tersangka. Saat dilakukan penangkapan, dirinya tidak mengindahkan peringatan petugas dan berusaha melarikan diri. (Lmj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here