BERITABUANA.CO, JAKARTA -Perkembangan teknologi informasi yang menggerakkan industri digital, mempengaruhi perilaku masyarakat Indonesia, terutama berkaitan dengan perilaku politik menjelang pemilihan presiden, seperti saat ini. Ironisnya, ternyata kelompok ibu-ibu justru menjadi penyebar hoax seperti data dari Marindo. Alasannya, Ibu-ibu cenderung malas melakukan cross check, atau tabayyun ( melakukan verifikasi dan konfirmasi informasi).

Hal tersebut disampaikan Koordinator Forum Alumni HMI-Wati (Forhati) Hanifa Husein kepada wartawan di Jakarta, Rabu (3/4/2019) yang menggelar seminar dan diskusi akhir Maret lalu di Kahmi Center.

Sebagai wadah berhimpun para Alumni HMI-WATI , Forhati terus melanjutkan tradisi akademisnya dengan melakukan seminar dan kajian tentang Fact Checker bagi perempuan SOLID atau Sadar Olah Literasi Digital.

“Literasi dalam membaca, menulis, dan diskusi seharusnya menjadi tradisi intelektual Insan Cita HMI,”ujar Hanifa.

Seminar dan diskusi tersebut lanjut dia, 

diikuti organisasi mahasiswi Islam, organisasi wanita Islam. Kegiatan  seminar sadar olah literasi digital  sangat bermanfaat, sehingga Alumni HMI Wati, mahasiswi-mahasiswi Islam, dan organisasi-organisasi perempuan Islam lainnya tidak merupakan bagian dari kalangan yang sering menyebar hoax.

Disebutkan, dalam seminar itu, Muhammad Khairi Haesy yang bertindak sebagai pembicara dari MAFINDO memberikan tips cerdas perempuan untuk bertindak sebagai Fact Checker ketika menerima berita di media sosial, seperti facebook, tweeter, dan media social lainnya yaitu Sabar, Kritis, Menganalisis informasi secara rasional dan mencari faktanya dan pemilik android bisa menggunakan playstore untuk mengecek ke beberapa lembaga yang bertindak sebagai Fact Checker.

Sementara, Herlando Marodona yang mewakili Kementerian Kominfo menyampaikan sikap pemerintah yang mendukung  anggota masyarakat yang berinisiatif menjadi pengguna media yang cerdas,  sehingga tidak mudah menyebar hoax dan menjadi penyebab timbulnya perpecahan dan rasa ketidak nyamanan.

“Insya Allah setelah tanggal 17 April berlalu, informasi-informasi lain juga akan hadir seperti biasa baik di bidang ekonomi, bisnis maupun bidang-bidang lainnya,” kata Hanifa.

Diharapkan,  Forhati dan perempuan – perempuan Muslimah yang tergabung dalam organisasi Islam lainnya tetap semakin cerdas (smart) dan kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi sehingga bermanfaat bagi penerima. (Ndus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here