Ratusan Massa AMPUH demo di PN Jaksel.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Tersangka sekaligus buronan pengemplang alias perampok uang triliunan Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI), Kaharudin Ongko dan anaknya Irianto Ongko mengajukan Praperadilan ke Pengadilan Negeri. Padahal seorang tersangka, apalagi masuk dalam DPO tidak mengajukan Praperadilan, hal ini sudah jelas dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 1 Tahun 2018 tentang Larangan Pengajuan Praperadilan Bagi tersangka yang Melarikan Diri atau Sedang dalam Status Daftar Pencarian Orang (DPO).

Terkait adanya pengajuan praperadilan tesebut, ratusan mahasiswa dan pemuda yang mengatasnamakan diri Aliansi Masyarakat Peduli Hukum (AMPUH), mendatangi PN Jaksel yang berada di jalan Ampera Jakarta Selatan, Senin (2/4/2019), guna mendesak hakim menolak praperadilan yang diajukan koruptor kakap tersebut.

“Hakim harus tolak praperadilan yang diajukan Kaharudin Ongko dan Irsandi Ongko. Mereka adalah koruptor BLBI pengemplang triliunan uang negara yang ini buron ke Singapore,” tegas Andi Ullah selaku Koordinator Lapangan (Korlap) aksi dalam oransinya.

Kata Andy, Bapak dan anak itu (Kaharudin Ongko dan Irianto Ongko), sebenarnya tidak bisa mengajukan praperadilan, mengingat keduanya menjadi daftar pencarian orang (DPO) Kejagung.

“Hakim harus sadar bahwa Kaharudin Ongko dan Irsandi Ongko adalah buronon dan sudah jadi tersangka. Mereka semestinya tidak bisa mengajukan praperdilan berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung No 1 Tahun 2018,” tegasnya mengingatkan.

Andy menduga hakim main ‘mata’ dengan koruptor BLBI tersebut. ia pun terus menyemangati massa yang berjumlah sekitar 400 an untuk terus berterik meminta hakim menolak praperadilan tersebut.

“Kami datang melakukan aksi kesini (PN Jaksel) karena ada dugaan hakim ada main dengan pengemplang uang rakyat itu.” pungkasnya.

AMPUH mensinyalir, ada indikasi kuat bahwa dua pengusaha hitam itu, dengan mudah dapat mengajukan Praperadilan karena ada yang memback up. Pun juga, integritas, netralitas, dan independensi hakim yang akan memutuskan Praperadilan ini diragukan perbagai pihak.

“Hakim mestinya memahami bahwa menjatuhkan putusan Prapeadilan terhadap tersangka yang berstatus DPO yaitu Kharudin Ingko dan anaknya Irsanto Ongko akan sia-sia, karena putusan permohonan Praperadilan tersebut tidak dapat diterima karena dari tinjauan yuridish jelas bertentangan dengan SEMA,” tegas Andi Ullah. (Aldo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here