Profesor Dr. Huzaimah T. Yanggo. (Foto: Jimmy)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Profesor Dr. Huzaimah T. Yanggo, dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), menjelaskan bahwa fatwa MUI tidak pernah menyebut bahwa golongan putih (Golput), atau orang-orang yang tidak ikut berpatisipasi dalam Pemilu Serentak, adalah haram. Yang disebutkan dalam fatwa tersebut bahwa orang-orang yang tak ikut memilih dalam pemilu, padahal ada calon yang memenuhi persyaratan adalah haram.

“Jadi Fatwa MUI sama sekali tak menyebut Golput. Itu hanya wartawan yang menyebut,” jelas Huzaimah dalam diskusi Empat Pilar MPR dengan tema ‘Efektifitas Fatwa Haram Golput Tingkatkan Partisipasi Pemilih?’, di Media Center, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senin (1/4/2019).

Huzaimah tampil sebagai pembicara dalam diskusi itu bersama pembicara lainnya, anggota Fraksi Partai Golkar MPR RI, Rambe Kamarul Zaman, dan anggota Fraksi Partai Gerindra MPR RI, Ahmad Riza Patria.

Huzaimah menjelaskan, bahwa fatwa MUI itu juga tidak dikeluarkan baru saja, fatwa itu sudah dikeluarkan 2009.

“Jadi jangan menganggap fatwa itu keluar karena Ma’ruf Amin saat ini maju sebagai cawapres. Fatwa itu sudah ada sejak lama, dan Ma’ruf Amin maju sebagai cawapres itu pribadi, tidak mewakili MUI,” Jelas Huzaimah.

Ditambahkan fatwa MUI itu juga ada kriteria-kriterianya. Jadi, kata Huzaimah, kembali kepada awal fatwa itu menyebut haram bagi yang tidak memilih, karena memang ada terpebuhi syarat kepada calo yang dipilih.

Anggota Fraksi Partai Golkar MPR RI, Rambe Kamarul Zaman. (Foto: Jimmy)

Pembicara Rambe Kamarul Zaman, menjelaskan, bahwa di UU Pemilu tidak ada diatur tentang halal atau haram.

“Di UU Pemilu hanya disebut hak dan kewajiban. Jadi, bila mereka mau memilih atau tidak, itu menyangkut hak mereka. Dan sama sekali tidak bisa dipidanakan,” kata Rambe.

Rambe pun menjelaskan, faktor kerumitan dalam pemilu serentak saat ini sangat tinggi. Disamping masih sangat banyak orang yang belum paham, mereka pun akan sulit melakukannya, mengingat banyak yang harus dilihat dan nantinya dipilih.

“Bisa dilihat dari pemilihan legislatif. Kertas yang musti dicoblos pun sangat besar dan disitu semua partai ada. Jelas mereka akan bingung memilihnya,” kata Rambe.

Soal waktu pun sama, tadinya hanya disiapkan sampai jam 13.00 WIB. Hal itu tidak mungkin, tapi setelah adanya judicial riview (JR), Mahkamah Konstitusi memundurkan waktu pencoblosan sampai pukul 00.00 WIB.

Jadi intinya, kata Rambe, pemilu kali ini sangat rumit. Banyak pemilih yang tak mengerti. Jika mau dikasih pengertian pun oleh para caleg, pemilih itu langsung minta bayaran.

“Ya, ketibang harus begitu. Saya yang sudah lima kali ikut pemilihan legislatif, saya lepas. Saya hanya kasih pemahaman, bahwa jika tidak ada yang dipilih, dicoblos saja partainya. Dan suara akan lari ke partai.

Namun, apa pun itu, Rambe berharap pemilu harus jurdil, luber dan berintegritas. Artinya, penyelenggara, yakni KPU, pengawas, Bawaslu, caleg, capres dan pemilih juga harus memilik integritas.

Anggota Fraksi Partai Gerindra MPR RI, Ahmad Riza Patria. (Foto: Jimmy)

Hal yang sama juga dikatakan pembicara Ahmad Riza Patria. Ia menyatakan, hak pemilih untuk memilih atau tidak. Karena hal itu tak ada pidananya, yang menempel di UU Pemilu, adalah hak.

“Soal haram atau halal, saya juga baru tahu nih. Karena di UU tak diatur haram atau halal dalam menilih. Tapi apapun itu, saya anggap semua untuk kebaikan,” kata Riza Patria.

Apapun yang dikeluarkan MUI, lanjut Riza, kita hormati karena untuk kebaikan. MUI pun mengeluarkan kembali fatwa itu sangat mungkin karena saat ini banyak para ulama berada di garis depan pilpres. Beda dengan sebelum-sebelumnya berada digaris belakang. “Ya, kita syukuri saja,” katanya.

Menyangkut, banyaknya Golput pada Pemilu Serentak kali ini, Riza menyatakan ketidaksependapatannta. Alasannya, semua masyarakat menginginkan pemilu berjalan dengan baik.

“Logikanya, terdahulu pemilu dipisah yang berpartisipasi sangat banyak. Saat ini digabung mestinya akan lebih banyak lagi. Ditambah lagi ada foto-foto efek para caleg yang pemilih sudah kenal. Mereka pasti akan datang ke TPS menggunakan hak pilihnya,” jelas Riza.

Sementara yang mungkin mempengaruhi golput bertambah, kata Riza, suhu politik saat ini sangat panas. Akibat, mereka malas menggunakan hak suara atau pergi ke luar negeri. “Saya dengar sih tiket pesawat sudah mulai ramai dipesan. Tapi ini baru dengar saja,” tutupnya. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here