BERITABUANA.CO, JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) mempertanyakan kinerja jajaran Polres Metro Jakarta Selatan. Hal ini sebab ada laporan ke IPW bahwa Polres Metro Jaksel membiarkan mangkrak kasus penggelapan mobil mewah yang dilaporkan sejak Agustus 2018 lalu.

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane mengatakan, kasus dengan nomor LP/1478/K/VII/2018/PMJ/Restro Jaksel ini perkembangannya sangat lambat. Bahkan PAR, sopir yang dilaporkan membawa lari mobil milik korban atas nama The Monica Sunarni dan Rudi Gunawan hingga saat ini tidak ditahan.

“Kasus ini bisa jadi preseden negatif yang bisa diikuti oleh pihak lain. Dimana sopir pribadi yang dipercaya malah ikut terlibat dalam penggelapan mobil mewah majikannya,” ujar Neta, Rabu (21/3/2019).

Lebih jauh, lanjut Neta, jika kasus ini berlarut, bisa memicu tingginya angka kejahatan penggelapan dan pencurian kendaraan bermotor di Ibukota.

“IPW mendesak Kapolda Metro Jaya segera menegur Kapolres Metro Jaksel agar segera menuntaskan kasus ini. Para pelaku penggelapan harus segera ditahan agar tidak menghilangkan barang bukti, dan segera limpahkan kasusnya ke kejaksaan,” ucapnya.

Kasus ini berawal dari percekcokan antara RG dengan seorang teman wanitanya RE. Tidak lama setelahnya, sopir keluarga RG, yakni PAR membawa kabur satu unit Toyota Vellfire dan satu unit Mercedez Benz CLS 63.

“Saat ini PAR masih bebas. Harus segera diperiksa apakah ada kaitannya dengan RE, atau dia bekerja sendiri,” tandasnya.

Sementara Kuasa Hukum korban dari Kantor Hukum Huta-Huta & Partners, Alvin Hutagalung menjelaskan, permasalahan yang terjadi berawal dari permasalahan kerjasama bisnis antara Rudi Gunawan dengan beberapa rekannya di dalam perusahaan. Seharusnya perselisihan itu diperiksa lebih dahulu melalui keperdataan di pengadilan, karena menyangkut perusahaan yang diatur dalam Undang-undang nomor 40 tahun 2007 tentang PT.

“Rekan bisnis klien saya menggunakan cara yang tidak lazim dan mengandalkan kekuasaan. Seperti mobil milik ibunya The Monica Sumarni dibawa, padahal tidak ada hubungannya. Maupun perselisihan dengan wanita (RE) yang baru diberkati secara gereja dan belum dicatatkan di kantor catatan sipil,” jelasnya.

Alvin mengungkapkan, ibu Rudi juga tidak pernah membuat surat wasiat terkait pengalihan mobil-mobil tersebut. Pengadilan juga belum menetapkan eksekusi terhadap mobil, karena tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan jumlah uang yang harus diganti Rudi.

“Yang memiliki wewenang dalam eksekusi harta benda para pihak berselisih hanya pengadilan. Apakah negara memperkenankan perbuatan mengambil hak orang lain tanpa ada putusan pengadilan?,” tukasnya. (Dar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here