Melawan Narasi Islamophobia

Twitter @Fahrihamzah 16-17/3/2019

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

SEJAK kemarin, kita membersamai luka yang dalam saudara-saudara kita Muslim New Zealand yang mengalami pembantaian secara kejam. Ideologi Islamophobia berbahaya bagi masa depan ummat manusia. Mari kita hentikan kebencian kepada sesama agar tiada korban selanjutnya.

Tak akan ada tetesan darah yang sia-sia. Semoga seluruh korban pembantaian di Masjid New Zealand menjadi syuhada fisabilillah. Dan setiap tetes darah melahirkan kesadaran bahwa di atas gelap Islamaphobia ini, da’wah Islam punya tugas berat membawa pesan damai kepada manusia.

Mungkin kita tidak terlalu sadar bahwa Islamophobia adalah ideologi lama, ideologi yang melekat pada rasisme di barat. Setelah pembantaian muslim Bosnia, melengkapi Apartheid di Palestina, kita sedikit terbangun tapi tertidur lagi. Kita masih belum sadar.

Kita tertidur karena kaum intelektual di barat dan para donatur bekerjasama membangun narasi Islamophobia; mereka menuduh muslim mengajarkan kebencian kepada non muslim sejak kecil, mereka menganggap ajaran Islam mengandung Hate Speech dan layak di-kriminalisasi.

Nyaris tak ada perlawanan. Bahkan dari negara muslim yang ada hanya Turki yang angkat suara keras. Presiden Erdogan jelas memakai kata Islamophobia dan menuduh setting media barat yang selalu tidak adil. Dapatkah kita bayangkan bagaimana beritanya jika pembunuh itu Muslim?

Kata presiden Erdogan, teroris hanya dikabarkan kepada agama Islam, itulah salah satu bentuk nyata Islamophobia. Kita gak pernah mendengar ia dinisbahkan ke agama lain. Bahkan ketika yang jadi korban muslim pun teroris-nya tetap disebut Islamic Terroris.

Di negara kita, terasa betul bahwa kita tidak punya strategi narasi melawan Islamophobia. Itulah yang membuat kita lebih nampak ikut-ikutan narasi rasial itu ketimbang punya jawaban dan narasi kontra. Paling tidak pemimpin INDONESIA kebanyakan bingung. Ada juga yang berbisnis.

Islamophobia adalah industri yang merek dagangnya dibangun berabad-abad sehingga memiliki dasar berpikir dan strategi pemasaran yang kuat. Di Indonesia, cukup banyak doktor dan guru besar lahir dengan kajian yang memperkuat Islamophobia dan nyaris tak ada perawanan.

Kemarin Ada 2 aksi teroris: Setelah bom Sibolga, lalu pembantaian di 2 masjid Christchurch, kita menyaksikan respon 2 kepala negara yang tak imbang. PM NewZealand menjadi trending. Indonesia tidak mengirim pesan yang berarti kepada rakyatnya apalagi kepada dunia.

Apa yang terjadi di negeri ini? Kegamangan yang fatal. Indonesia, negara muslim terbesar ini tidak punya ide sendiri tentang cara melawan Islamophobia. Jangankan membangun narasi tandingan, kita ikut-ikutan. Sebagian ikut berdagang. Sungguh menyedihkan.

Sekali lagi, kita mengirim dukacita kepada korban kematian yang meninggalkan keluarga dan anak-anak tersayang.
Semoga Allah SWT menjadikan mereka syuhada.
Dan keluarga diberi kesabaran. Tugas kita berat melawan semua ideologi kebencian.
Dan mengirim pesan perdamaian.

Pembukaan UUD 1946 jelas menyebutkan bahwa salah satu tujuan kita bernegara adalah
“…ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”
…cukup jelas misi kita tapi artikulasi kita SAMAR. Sekian. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *