Menyongsong Debat ke-3, Pengamat: Sandi Tak Perlu Khawatir ‘Kualat’ dengan Ma’ruf Amin, Ini Politik

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Politik itu bukan matematik, efek dari politik bisa ke mana-mana, begitu pun dampaknya. Jadi sangat tidak heran bila dalam debat ketiga Cawapres Sandiaga Uno dengan Cawapres Ma’ruf Amin, beredar rumor posisi tawar secara politis ada di cawapres nomor urut 01. Dengan asumsi bahwa Sandi akan ‘kualat’ bila berdebat ‘keras’ dengan Ma’ruf Amin, sebagai sosok lebih tua dan tokoh agama.

Menimpali rumor itu, Pengamat Politik dari CSIS, Arya Fernandes, dengan tegas menampiknya. Menurut dia, tak perlu dihiraukan rumor seperti itu.

Masyarakat Indonesia, kata Arya, harus bisa membedakan dua status tersebut. Dari status politik, posisi antara Sandi dan Amin, setara. Mereka sama sama di calonkan oleh kolaisi partai. Sama -sama memienuhi persyaratan pencalonan, sama-sama menjadi status sebagai calon wakil presiden. Jika mereka terpilih mereka akan menajadi wakil presiden RI

Yang membedakan mereka, lanjut Arya, hanya status keagamaa. “KH Amin Ma’ruf adalah mantan Rois Am di PBNU. Tapi Pilpres adalah event politik tentu status menjadi setara. Jadi tak perlu khawatir takut kualat Sandi,” kata Arya

Arya Fernandes mengungkapkan hal itu, ketika tampil sebagai pembicara bersama Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan Anggota DPR dari F PDIP Eriko Sutarduga, pada diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema ‘Menakar Efektivitas Debat Capres dalam Meraih Suara’, di Media Center MPR/DPR RI, Gedung Nusantara III, Komplek Parlemen, Kamis (14/3/2019).

Jadi, Arya mengingat Sandi untuk tidak khawatir akan hal ‘kualat’. Karena debat itu adalah hal yang penting, dan rakyat bisa menagih kepada kandidat atas pernyataan-pernyataan di debat tersebut.

Sekali lagi debat bebas dan cair, jelas Arya, adalah yang ditunggu rakyat. Kenapa? Pertama, rakyat sebagai pemilih sudah jenuh, kampanye yang panjang, kemudian sisi inovasi yang tidak muncul.

“Itu sudah kita tangkap dalam debat pertama dan kedua. Disaat yang sama publik kita ini partisipasi oflinenya itu juga relatif mengalami penurunan dibanding dua pemilu sebelumnya,” kata Arya.

Saat ini, tambahnya, orang menunggu sekali debat ini berkualitas. Sebab, jika debat tidak mampu untuk menghadirkan sesuatu yang baru, orang tentu akan menjadi kecewa dan akan berdampak kepada fartisipasi pemilih kita.

Selanjutnya, yang kedua, kedua kandidat terjadi satu kondisi yang sama. Adanya ketidakpastian. 01 masih akan tembus ke anggak 60 % atau tidak, sementara 02 belum pasti, apakah dia kan mampu mendekati perolehan suara atau tidak.

Nah, ditengah kepastian itu rakyat sangat menunggu momen debat. Jadi momen debat itu harus dimanfaatkan dengan benar oleh para kandidat. Dan KPU juga sudah harus sadar benar hal itu dengan mengubah sistem debat lebih berkualitas. (Kds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *