BERITABUANA.CO, JAKARTA – Memberantas narkoba itu melelahkan. Bahkan mantan Kepala BNN Komjen Pol (Pur) Budi Waseso atau biasa disebut dengan singkatan Buwas pernah menyatakan bahwa dirinya sudah berdarah-darah melakukan hal itu. Tapi nyatanya kepedulian kementerian atau lembaga non kementerian belum significan berbuat, terkesan tak peduli.

Demikian diungkapkan mantan Humas BNN Kombes Sulistiandriatmoko yang tampil sebagai pembicara bersama anggota Fraksi PDIP MPR  Hendry Yosodiningrat dan anggota Fraksi NasDem MPR RI, Taufiqulhadi,  dalam diskusi  Empat Pilar MPR yang mengambil tema ‘Narkoba dan Kehancuran Kedaulatan NKRI’, di Media Center, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jumat (8/3/2019).

Lalu, kalau ditanya apa buktinya, Buwas mengatakan itu, buktinya, menurut Sulistiandriatmoko, tiga juta tiga ratus enam puluh tujuh sekian,  saat ini itu adalah menjadi pengguna narkoba. Ini data dari survei  tahun 2017.

Angka itu, kata  Sulistiandriatmoko, sudah terlanjur begitu besar potensi penggunaan narkoba di Indonesia ini. Cara para gembong narkoba pun 1001 cara memasukkan barang. Karena  begitu besar demandnya, yakni 3 juta 367 orang .

Selalu saja kucing-kucingan. Ditangkap di sini muncul di sana. Terus begitu. Dan pemerintah  sudah terlanjur gagal melakukan pencegahan.

Nah, mestinya kalau sudah terlanjur, menanganinya harus mengambil tindakan ekstra. Tidak bisa lagi melakukannya seperti sekarang-sekarang ini. BNN pun akhirnya tidak bisa melakukan tindakan ekstrim terus-menerus seperti yang sudah dilakukan penembak mati bandar.

“Saya sepakat yang dikatakann Pak Hendry. Harus ada yang ekstrim dalam memberantas narkoba dalam situasi darurat ini. Bayangkan rehabilitasi maxsimum dalam satu tahun hanya  mampu mengatasi 14 ribu, butuh berapa tahun untuk menyelesaikan segitu banyaknya yang tiga juta tiga ratus enam puluh tujuh itu,” katanya.

Kemudian, lanjut Sulistiandriatmoko, kondisi Lapas, ketika pecandu ditangkap diuar lapas kemudian dimasukkan kedalam penjara. Tidak terjadi  treatment di dalam penjara. Apa yang terjadi?  Yang terjadi akhirnya penjarabmenjadi tempat menggunakan narkotika.

Karena, kata dia, para pecandu dipindahkan ke dalam lapas dengan begitu banyaknya di mana saat ini sudah mencapai 46.000, baik pengguna, pengedar maupun bandar

“Bagaimana munkin demand yang begitu besar  tak ada supply  di dalam. Apalagi di dalam rata-rata pemakai,” tegasnya.

Jadi, pernyataan akan ada reformasi lapas. “Omong kosong itu. Saya tidak percaya,” katanya.

Mustinya, tambah dia, mereka-mereka yang penyalahgunakan itu di bedakan, ditempatkan khusus dengan pengedar dan bandar, dengan narapidana yang lain. kemudian dilakukan treatment di dalam lapas,  rehabilitasi, kalau itu tidak dilakukan maka reformasi lapas hanya omong kosong.

Kemudian untuk rekan media supaya tak salah kaprah terhadap korban penyalahguanaan narkotika. Bahwa yang dimaksud dengan korban penyalah gunaan narkotika, menurut hukum postif UU Narkotika adalah sebagaimana dimaksud dalam pasal penjelasan pasal 54.

Korban penyalahgunaan narkotika adalah mereka karena dipaksa atau  terpaksa, diperdaya, ditipu, akhirnya dia menggunakan narkotika.

“Berarti tidak ada sikap batin untuk menggunakan itu, tidak ada menserealnya untuk bisa menggunakan itu karena  ketidakberdayaannya,” jelas Sulistiandriatmoko.

Beda dengan penyalahguna  penyalah guna menurut pasal 1 angka 15. Di mana orang yang menggunakan narkotika secara tanpa hak atau melawan hukum.

Sanksinya, pasal 127, bahwa setiap penyalahguna, setiap orang yang menggunakan aplikasi cara melawan hak atau melawan hukum, ancamannya kalau dia mengunakan golongan satu ( Sabu)  ancaman 4 tahun, golongan 2,  2 tahun dan  golongan 3 ancaman hukumannya 1 tahun.

Nah, jika soal Andi Arief, mestinya diterapkan dengan pasal 127 tak perlu memperlihatkan barang buktinya, karena di pasal itu tak mengatur barang  bukti, begitu dia terbukti sebagai penyalah guna, menstrialnya jelas, mengeluarkan uang, mencari barang,  menyewa kamar hotel, itu termasuk pidana dalam pasal 127 itu. Jelas hukumannya. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here