BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, semua Presiden di Indonesia memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing dalam memimpin negeri ini. Semua dipengaruhi oleh perkembangan zamannya masing-masing.

“Saya ini pernah menjabat di tiga pos Presiden, Megawati Soekarnoputri, SBY, dan Jokowi. Kalau Bu Mega itu sangat kuat menjaga stabilitas. Kalau ada masalah di demo, demo saja silakan,” kata Wapres sebagai pembicara di acara temu alumni Ikatan Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan Nasional (IKA PIMNAS) Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta Pusat, Selasa (5/3/2019).

Menurut JK, di era kepemimpinan Pak Harto mulanya sangat demokratis. Hal ini tercermin adanya partai dan Pemilu yang berjalan baik. Namun, iklim demokratis perlahan sirna setelah munculnya kepentingan-kepentingan.

Setelah itu, terjadi praktik monopoli dan nepotisme untuk memperebutkan proyek-proyek. 33 tahun era kepemimpinan Pak Harto berakhir dan menimbulkan krisis ekonomi akibat adanya monopoli dan nepotisme.

“Dalam kondisi seperti itu, Pak Harto menjadi lebih otoriter. Tetapi memang tiga pemimpin di Asean, misalnya Mahatir, Lee Kuan Yew, dan Marcos di Filipina hampir sama. Kita tahu mereka sangat dekat, tetapi tak sesuai prinsip demokrasi yang terbuka,” ungkapnya.

Sedangkan, pola kepemimpinan Presiden SBY, lanjut JK, kepemimpinan SBY sangat demokratis karena berasal dari TNI dan melaksanakan proses demokrasi. Ide-ide dwi fungsi ABRI dihilangkan jadi segala proses transisional demokrasi sangat terbuka.

“Dan Pak SBY menghindari pola kepemimpinan yang otoriter dan nepotisme,” ungkap Mantan Wapres SBY periode 2004-2009

Gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo sangat jauh dari dua hal tadi. “Pak Jokowi ini pas, karena dia apa saja masalah di kabinet selalu dirapatkan. Setahun rapat lebih dari 200 kali. Beliau selalu ingin mendapat undangan dari sekjen dan kementerian,” jelasnya.

Bukti nyata Jokowi tak nepotisme, lanjutnya, terlihat dari karier anak-anak. JK mengatakan anak Jokowi tertua yaitu Gibran Rakabuming berbisnis katering, sementara putra bungsu Kaesang Pangarep justru menjual pisang goreng. Keduanya tidak ada hubungan dengan pemerintahan.

JK juga mencontohkan Presiden Jokowi suka blusukan untuk meninjau keluhan masyarakat. “Pemimpin yang kalau Pak Jokowi menjalankannya apa pergi sendiri melihat blusukan. Ada pemimpin juga di situ, jadi bukan hanya pemimpin yang hanya di kantor saja. Itu kadang-kadang menggabungkan,” kata JK.

Wapres JK menilai ada beberapa perbedaan antara pemimpin dan kepala. Jika pemimpin memberikan inspirasi, sedangkan kepala diberikan amanah.

“Pemimpin juga memberikan inspirasi beda antara pemimpin dan kepala. Kalau kepala diangkat karena SK, kalau pemimpin karena perilaku. Anda bisa kepala sekaligus pemimpin bisa. Tapi juga Anda bisa jadi kepala tapi tidak bisa jadi pemimpin. Karena kepemimpinan itu suatu cara bagaimana menggerakan anak buah,” lanjut JK.

Dia juga menjelaskan tidak hanya pemimpin yang memberikan inspirasi, karyawan pun bisa memberikan inspirasi kepada atasannya. “Jadi kadang-kadang anak buah memberikan inspirasi tanpa diperintah dan menjalankan,” jelasnya.(CS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here