BERITABUANA.CO, JAKARTA – Isu SARA tidak hanya terjadi menjelang pilpres. Isu tersebut sudah ada sejak dahulu. Masalahnya saat ini muncul lagi dan menguat, karena memang dimanfaatkan oleh kedua pasangan calo (paslon) presiden. Akibatnya muncul terlihat kepermukaan.

“Isu SARA yang saat ini ada, karena didalamnya ada tindakan-tindakan, misalnya diskriminasi, kemudian kekerasan dan penganiayaan. Itu yang terjadi dilapangan,” kata Manager Riset dan Program The Indonesia Institute (TII), Yossa Nainggolan pada diskusi Empat Pilar MPR, dengan tema “Isu SARA dalam Pilpres Hancurkan kebhinekaan”, di Media Center, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jumat (1/3/2019).

Menurut Yossa, jika berbicara masalah SARA di situ ada Agama, Suku, Ras dan Antar Golongan. Tapi biasanya orang melupakan kepanjangan dari SARA itu sendiri. Lebih banyak bicaranya soal Agama dan Suku. Tak lagi bicara Ras dan Antar Golongan.

Nah, kembali kenapa dirinya mengatakan isu SARA ada sejak dari dulu, karena, kata Yossa, memang isu keragaman dan pluralisme di Indonesia itu tidak pernah selesai.

“Negara dalam konteks ini pemerintah, khususnya dalam aspek pendidikan itu menurut saya, masih kurang dalam membahas atau menguliti dari sisi teknis dan kurikulum pendidikan. Sehingga masih banyak orang-orang yang kemudian tidak bisa memahami perbedaan di masing-masing mereka,” kata Yossa.

Hal itu, jelas Yossa, bisa dilihat di sekolah-sekolah. “Saya sebagai umat Kristiani, misalnya. Ketika saya sekolah dulu itu masih menerima pelajaran agama yang gurunya bukan agama Kristen. Itulah salah satu bentuk. Mestinya kan negara bisa menyediakan agama yang sesuai,” katanya.

Kemudian, Yossa mencontohkan lagi saat diri datang ke Maluku. Di sana ada yang namanya suku NAULI, yang memiliki kebiasaan, keyakinan lokal yang datang dari leluhur. Tetapi karena perhatian pemerintah saat itu tidak cukup terkait dengan bagaimana seharusnya mereka bisa mengembangkan keercayaan lokal, siswa-siswa di sana itu sebagian besar menerima pelajaran agama yang tidak yang mereka yakini.

“Kalau tak salah mereka menerima agama kristen protestan. Alasannya karena tidak ada guru yang bisa dilatih untuk soal agama dan keyakinan. Nah, yang seperti ini seharusnya tak ada lagi di zaman sekarang,” pintanya.

“Dahulu saya sekolah masih ada, dan sekarang pun masih ada. Ini salah satu kurikulum pendidikan yang salah,” katanya lagi.

Jadi, kenapa sekarang muncul lagi, seperti itu tadi. Dimanfaatkan oleh kedua paslon presiden. Meski sudah ada komitmen yang cukup dari elit politik bahwa tidak perlu ada kampanye hitam, kenyataannya di tingkat bawah atau ditingkat akar rumput itu masih terjadi.

“Seolah-olah dan perbedaan antara elit politik dengan akar rumput ditingkat lapangan. Akibatnya isu SARA tak bisa terselesaikan,” keluh Yossa. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here