BERITABUANA.CO, LUBUKLINGGAU
Berjarak 2 km dari ibukota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Bandara Silampari mulai menggeliat menggaet penumpang sejak dioperasikan oleh Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (KUPBU) Kelas III, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sejak 14 Februari 2018.

Awalnya Bandara Silampari dioperasikan pada 7 Mei 1994 sebagai bandara perintis, yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan, Ramli Hasan dan Menteri Perhubungan, Haryanto Danutirto. Namun karena sesuatu hal pengoperasian bandara terhenti sejak 2001 hingga 2004. 

Baru kemudian pada tahun 2005 dioperasikan kembali melalui subsidi Pemerintah Kabupaten Musi Rawas. Tapi, memang tidak mudah memang mengelola bandara hanya mengandalkan subsidi dari APBD, apalagi dengan anggaran yang terbatas, mau tidak mau harus mengalah demi keberlangsungan pelayanan angkutan udara, maka pada tahun 2013 operasional Bandar Udara Silampari diserahkan pengelolaannya kepada Kementerian Perhubungan.

“Selama empat tahun, sejak 14 Februari 2014 hingga 2018 berinduk pada Bandar Udara Fatmawati Soekarno Bengkulu berstatus Satuan Pelayanan, tapi sejak 14 Februari 2018 statusnya dinaikan menjadi Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (KUPBU) Kelas III,” ungkap Rudi Pitoyo, Kepala KUPBU Kelas III Bandara Silampari, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan saat berkunjung kebandara tersebut, Senin (18/2/19).

Bandara Silampari, tutur Rudi, memiliki runway sepanjang 2.220 m x 45 m dan kini sudah melayani 3 kali penerbangan setiap hari, yakni maskapai Batik Air dan Nam Air untuk rute Jakarta – Silampari, serta Wings Air untuk rute Silampari – Palembang, dengan jumlah penumpang 250-300 orang setiap harinya.

Rudi mengatakan, pembangunan dan penambahan luas terminal yang dilakukan sejak 2016 sudah rampung 100 persen. Gedung terminal itu terdiri dari ruang keberangkatan dan kedatangan serta ruang tunggu penumpang dan tempat check in.

Kehadiran Bandara Silampari, menurut Rudi, sangat membantu masyarakat Lubuk Linggau dan enam daerah kabupaten yang berdekatan, diantaranya Kabupaten Musirl Rawas, Musi Rawas Utara, Empat Lawang, Muara Enim, dan bahkan provinsi tetangga seperti Bengkulu bisa menikmati fasilitas penerbangan rute Jakarta dan Palembang.

Rudi menambahkan, rencana kegiatan tahun 2019 meliputi pembuatan talud pengaman runway strip, pembangunan gapura dan kantor kramanan, pengadaan kendaraan foam tender type III, pembuatan gedung operasional type 36 dan 50 masing-masing 10 unit dan 3 unit, pembuatan RTT sisi darat, pengadaan dan pemasangan pagar pengaman sisi udara dan pagar pengaman batas lahan dengan BRC tinggi 2,4 m, prmbangunan mushola, renovasi dan penataan gedung administrasi dan gedung operasional, serta pengawasan pengembangan bandara. 

“Semua rencana pengembangan bandar udara Silampari berdasarkan Kepmenhub No.KP 352 Tahun 2015 dengan kebutuhan lahan sekitar 12,3 hektar untuk jalan inspeksi, pemenuhan runway strip menjadi 2.345 m x 300 m, dan fasilitas sisi darat,” pungkas mantan Kepala Bandara Labuhan Bajo ini. yus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here