BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ditjen Perhubungan Laut terus mengoptimalkan dan meningkatkan konektivitas antar wilayah yang menghubungkan wilayah barat Indonesia hingga wilayah Timur Indonesia melalui penyelenggaraan angkutan laut.  Salah satunya melalui jalur tol laut selatan Jawa.

Apa yang dilakukan itu, berdasar Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2016, tentang Penyelenggaraan Kegiatan Pelayanan Publik Kapal Perintis Milik Negara dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 48 tahun 2018 Penyelenggaraan Kegiatan Pelayanan Publik Kapal Perintis Milik Negara, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan melaksanakan penyelenggaraan pelayanan publik angkutan laut penumpang (perintis), barang dan angkutan perairan dari tahun ke tahun untuk menjaga konektivitas angkutan laut, ketersediaan kapal, ketersediaan barang kebutuhan masyarakat.

“Pada tahun anggaran 2019, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menyediakan 113 trayek dengan 46 trayek penugasan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT PELNI (Persero) dan 67 Trayek untuk dilelangkan kepada operator perusahaan pelayaran swasta Indonesia,” ujar Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut yang diwakili oleh Kasubdit Angkutan Laut Dalam Negeri, Capt. Budi Mantoro usai membuka rapat pembahasan potensi dan realisasi muatan kapal perintis melalui Jalur Tol Laut Selatan Jawa, Jumat (15/2/19) di Cilacap.

Dikatakan Capt. Budi, dengan potensi yang dimiliki saat ini yaitu 113 trayek dengan 41 pelabuhan pangkal pada 23 Propinsi, +/-  500 pelabuhan singgah , disediakan kapal perintis milik negara dengan ukuran 200 GT s/d 2000 GT dengan kapasitas angkut 30.000 penumpang, 17,7 % melayani Kawasan barat Indonsesia, 82,3 % Kawasan timur Indonesia sangat potensial.

Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan tujuan dan sasaran penyelenggaraan pelayanan publik angkutan laut perintis adalah menghubungkan daerah yang masih Tertinggal Dan/Atau wilayah Terpencil, Terluar, Perbatasan yang belum berkembang dengan daerah yang sudah berkembang atau maju.

Selain tujuan dan sasaran tersebut, lanjut Capt. Budi, yang penting dan menjadi target dari angkutan laut perintis adalah menghubungkan daerah yang moda transportasi lainnya belum memadai, nenghubungkan daerah yang secara komersial belum menguntungkan untuk dilayani oleh pelaksana kegiatan angkutan laut, angkutan sungai dan danau, atau angkutan penyeberangan.

Capt. Budi mengemukakan, dengan adanya kapal perintis milik negara di pangkalan menjadi sarana dan prasarana bagi masyarakat wilayah pantai selatan Jawa untuk memanfaatkannya guna mengirim kebutuhan masyarakat, kebutuhan pokok penting, hasil produksi Usaha Kecil Menengah (UKM), hasil pertanian, hasil perkebunan, hasil perikanan, hasil perindustrian, hasil pertambangan.

“Dengan menggunakan kapal 3300 GT yang tersedia pada pangkalan Cilacap, harapan kami dapat memberikan pelayanan kepada stakeholder di wilayah pantai selatan Jawa, dengan kapal dapat memuat muatan yang lebih banyak dibanding dengan menggunakan moda transportasi lainnya,” pungkas Capt. Budi. (yus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here