BERITABUANA.CO, JAKARTA – Sidang kasus penggelapan uang sebesar Rp7 miliar milik perusahaan PT Bumi Sejahtera Ariya (BSA), dengan terdakwa Hartanto Jusman kembali digelar di Pengadilan Negeri Tangerang.

Dalam kesempatan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ayanih mengajukan saksi ahli pakar hukum pidana, yakni Chairul Huda. Di persidangan saksi ahli menjelaskan, perlunya ada pemisahan antara harta kekayaan pribadi dengan harta milik perusahaan.

“Rekening perusahaan bukan milik pribadi, Direksi Perseroan tidak boleh memperlakukan harta kekayaan perusahaan seolah-olah itu milik pribadinya, apabila dilakukan dengan sengaja jelas merupakan bentuk kesalahan,” kata saksi ahli Chairul Huda saat menjelaskan dihadapan majelis hakim pimpinan I Ketut Sudira, Rabu (13/2).

Menurutnya, apabila uang perusahaan yang dipindahkan ke rekening pribadi, kemudian dipindahkan lagi ke rekening perusahaan, jika terdapat kerugian pada dasarnya salah.

“Tindakan tersebut merupakan tindak pidana penggelapan,” kata Huda menandaskan.

Ditambahkan, dalam hal ini setidaknya ada tiga bentuk kesengajaan, yaitu kesengajaan karena maksud, kesengajaan karena kemungkinan dan kesengajaan dengan keharusan.

“Sebuah Perseroan Terbatas (PT) tidak boleh memakai rekening pribadi, contohnya menggunakan rekening lebih dari satu adalah bentuk kesengajaan karena maksud,” terangnya.

Karena itu apabila terjadi kepengurusan yang tidak jelas, lanjut saksi ahli, dalam hukum pidana bahwa siapa yang mempergunakan rekening pribadinya, dan terjadi kekacauan, maka pengurusnyalah yang bersalah.

Sementara itu JPU dalam perkara ini menjerat terdakwa Hartanto Jusman (56) dengan Pasal 374 dan 372 KUHP atas perbuatanya menggelapkan uang milik perusahaan sebesar Rp 7 miliar.

Sebelumnya dalam dakwaannya, JPU mengungkapkan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh terdakwa Hartanto Jusman selaku Direktur Utama PT Bumi Sejahtera Ariya (BSA). Pada tanggal 22 Juni 2017 sekitar pukul 15.00 WIB di Bank Mandiri Cabang Tangerang Kisamaun telah memindahkan uang milik perusahaan ke rekening pribadinya.

Setelah uang perusahaan tersebut masuk ke rekening pribadinya, terdakwa kabur ke luar negeri sejak tanggal 23 Juni 2017 sampai dengan Februari 2018. Selama 7 bulan, terdakwa juga meninggalkan keluarganya, bahkan saat istrinya meninggal pun ia sama sekali tidak menampakan batang hidungnya.

Akibat perbuatan terdakwa, pembiayaan operasional Rumah Sakit Ariya Medika sangat terganggu hingga terancam bangkrut. Bahkan somasi saksi pelapor Suherman Mihardja melalui pesan WhatsApp sebanyak 2 kali, yaitu tanggal 3 Juli 2017 dan 17 Juli 2017 untuk segera mengembalikan dana milik perusahaan tidak digubris oleh terdakwa.

Lantaran tidak ada itikad baik dari terdakwa, pengusaha dan advokat ini pun menempuh jalur hukum dengan melaporkannya ke Polres Metro Tangerang tertanggal 7 Agustus 2017. Oisa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here