Fahri Ajak Pemuda Berani Dengan Literasi

BERITABUANA.CO, MAMUJU – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menegaskan , tradisi membaca atau literasi yang baik, akan melahirkan masyarakat yang berkarakter, cerdas dan kritis. Sebaliknya, ketika literasi rendah maka masyarakat gampang diprovokasi dan dijajah.

‘Saya ini orang kampung. Walau dulu membaca di kampung hanya pakai pelita , tetapi literisasi  yang kuat jadi modal kuat bagi saya  berkompetisi di Jakarta. Tradisi membaca dengan kuat itulah modal yang  aku  miliki,” kata Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah pada acara Ngobrol Inspiratif “Bincang Literasi” di warung kopi Teras Mamuju di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Senin malam (11/2/2019).

Dahulu, tambahnya orang membaca buku ada pengantar, pendahuluan, isi dan kesimpulan namun saat ini muncul tradisi menulis pendek melalui media sosial.

Menurut dia, tradisi menulis pendek itu akan melahirkan manusia berpikiran pendek, tidak mengerti bagaimana melahirkan sitesa dan memunculkan kesimpulan sehingga tidak ada alur diskusi dan dialektika yang baik.

Karena itu, dia mengkritisi kurangnya dukungan dari pemerintah melalui arah kebijakan  turut merendahkan budaya literasi di masyarakat.

Salah satu yang menghambat munculnya budaya literasi, lanjut Fahri adalah pelarangan buku dan tidak adanya contoh dari pemerintah bagaimana membudayakan membaca di masyarakat.

“Bagaimana mau mengkampanyekan literasi kalau konsepnya saja tidak ada. Itu yang membuat kita sulit. Kegandrungan nasional akan literasi masih rendah, lalu sekarang ditambah dengan hilangnya buku,” tambah Fahri .

Kondisi ini pun , menurut Anggota DPR dari Dapil NTB itu, diperparah dengan munculnya upaya kriminalisasi terhadap seorang yang menuliskan gagasannya dalam tradisi teks pendek dengan dikenakan pasal pidana dalam UU ITE.. Padahal UU ITE  harusnya digunakan untuk administrasi ekonomi.

“Seharusnya, pemerintah menyadarkan masyarakat untuk kembali kepada tradisi literasi, misalnya buku apa yang harus dibaca masyarakat seperti menggandrungi teks lama dan membaca sejarah secara utuh,” harapnya.

Fahri berpendapat pemimpin bangsa  seharusnya mengambil posisi penting dalam tradisi literasi yaitu berbicara secara lantang terkait arah bangsa dan mengirimkannya sinyal tersebut kepada bangsa lain.

“Soekarno ketika di dalam penjara dan dipengasingan di Bengkulu, Ende dan Bandung, mampu mengirimkan sinyal kepada bangsa lain. Kiita butuh pemimpin ‘raksasa’ dalam ide dan pemikiran yang memukau dunia,” katanya. (Aldo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *