BERITABUANA.CO, GORONTALO – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE),

tidak dimaksudkan untuk melarang orang bicara, dan UU itu tidak berdiri sendiri sebagai UU Pidana umum, kecuali untuk melengkapi KUHP,  karena unsur-unsurnya menyangkut siapa yang punya legal standing itu ada di KUHP.

“UU ITE itu hanya bisa berdiri sendiri sebagai UU Administrasi ekonomi,” ujar Fahri Hamzah menjawab wartawan usai menyampaikan orasi kebangsaannya pada deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia/GARBI chapter Gorontalo, di Sulawesi Utara, Minggu (10/2/2019) kemarin.

Fahri menegaskan UU ITE itu tidak juga untuk melarang orang bicara. UU ITE ini untuk administrasi ekonomi sebagai pelengkap UU Resi Gudang, UU Penanaman Modal Asing yang kita buat dari tahub  2006-2008.

Sebelumnya dalam orasinya, Fahri

menyoroti adanya fenomena kebebasan berpikir dan berbicara yang dibatasi melalui pasal-pasal pemidanaan dalam UU ITE.

“UU ITE dipakai pemerintah dan digandrungi aparat yang membuat aspirasi masyarakat dihentikan,” kata Anggota DPR dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) itu lagi.

Menurut dia, kondisi saat ini tidak bisa dibiarkan yaitu orang menyampaikan kritik atas sebuah persoalan lalu dipidana dengan pasal di UU ITE.

“Aparat jangan gandrung menggunakan pasal tersebut apalagi digunakan untuk saling melaporkan demi kepentingan penguasa,” ujarnya.

Fahri mencontohkan pernyataan musisi Ahmad Dhani yang menulis pendapatnya di media sosial bahwa “pendukung penista agama layak diludahi muka”, lalu ditangkap dan dijatuhi hukuman atas pernyataannya tersebut. Menurut dia, pernyataan Dhani tersebut sama artinya pendukung kriminalitas layak diludahi mukanya seperti pendukung begal, pendukung teroris, dan pendukung pemerkosa.

“Seolah-olah hukum diinterpretasi sepihak untuk kepentingan penguasa, tidak boleh seperti itu,” katanya.

Lantas Fahri mengingatkan bahwa Indonesia mengalami zaman kebangkitan untuk menentang penjajahan kolonial karena kegelisahan pemikiran lalu muncul gerakan perlawanan.

Karena itu dia menilai GARBI lahir dari kegelisahan kolektif untuk mengembalikan tradisi kebebasan berpikir dan berpendapat yang ada di Indonesia. (Aldo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here