Pengamat dan IPW Sebut BG, Syafruddin dan Condro Kirono Layak Jadi Ketum PSSI

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Nama-nama calon ketua umum PSSI, pasca mundurnya Edy Rahmayadi, dan diangkatnya Djoko Driyono sebagai Plt ketum PSSI, semakin ‘liar’ bermunculan. Dari mulai nama-nama yang tidak pas dimasukan, seperti Basuki Tjahaja Purnama (BTP), terus yang layak seperti Erick Thohir, Alex Noerdin, sampai kepada nama mantan Wakapolri Komjen Syafruddin, terus bermunculan.

BTP, tidak pasnya. Karena disimpulkan tak pyur dalam keterlibatannya di dunia sepak bola. Kemudian yang pas, seperti Erick Thohir, terjun langsung di klub internasional Inter Millan, dan segudang pengalamannya di dunia sepak bola.

Ditambah lagi, Erick sekarang adalah sebagai ketua pemenangan tim capres Jokowi – Ma’ruf Amin. Yang nota bene publik menyebutnya sangat gampang bila Erick mendapatkan jabatan tersebut. Terlebih lagi bila Jokowi kembali terpilih sebagai presiden.

Mungkin posisi Erick adalah yang paling gampang untuk mengambil kursi ketua umum PSSI. Ibarat kiasan “tinggal membalikan telapak tangan”.

Kemudian Alex Noerdin, juga sama berpeluangnya. Sosok Alex sudah banyak tahu kiprahnya di didunia sepak bola. Selain di klub daerah asalnya, Sumsel, juga dialah yang berhasil memboyong bintang sepak bola Ronaldinho ke Indonesia. Dia juga akan mendatangkan Lionel Messi, menyusul.

Lalu, bagaimana dengan mantan Wakapolri yang saat ini menjabat sebagai Menteri PAN RB, Syafruddin? Tentu jawabnya, akan sama memiliki peluang kuat.

Karena disamping dia dikenal sangat dekat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (mantan ajudan JK), dia juga dekat dengan Ka-BIN, Jenderal Pol (Pur) Budi Gunawan.

Nah, Budi Gunawan biasa dia singkat BG itu, hampir semua orang tahu sangat dekat dengan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, yang mungkin sekarang ini paling dekat dengan Presiden Jokowi.

Artinya, jika BG berkendak membantu Syafruddin, secara politis sangat mudah bagi Syafruddin mendapatkan kursi bergengengsi ketua umum PSSI.

Kesit B. Handoyo

Pengamat sepak bola, Kesit B. Handoyo pun, menyebut, nama Syafruddin sangat layak menduduki kursi ketum PSSI — yang saat ini dipegang oleh Joko Driyono, berdasarkan statuta FIFA.

Kesit menjelaskan, sosok ketua umum harus memiliki keberanian untuk mengubah kultur yang ada di PSSI selama ini. “Ketum PSSI harus berani mendobrak dan mengubah kultur-kultur buruk yang ada di PSSI,” ungkap Kesit, Sabtu (9/2/2019).

Kemudian, kata Kesit lagi, sosok ketua umum PSSI harus kredibel sehingga dapat membawa PSSI ke arah yang lebih baik. Minimal sosok itu tahu bagaimana menjadikan bola sebagai sebuah industri sehingga bola kita bisa profesional dan secara bisnis maju.

Kesit pun tak ragu menyebut nama yang menurutnya memiliki kapasitas dan memenuhi kriteria untuk memimpin PSSI, seperti Syafruddin, Ketua Dewan Pembina Persija Jakarta.

Syafruddin itu, kata Kesit, sebagai dewan pembina cukup sukses. Dulu membawa Bhayangkara FC, kemudian membawa Persija Juara. “Saya rasa bisa-bisa saja dimunculkan namanya,” tutur Kesit.

Sepak terjang Syafruddin dalam sepak bola nasional, masih menurit Kesit, juga memiliki prestasi sangat gemilang dengan mengantakan juara dua klub yang dibinanya. Mengantarkan Bhayangkara FC sebagai juara Liga I tahun 2017.

Selain itu saat mendapat kepercayaan sebagai Ketua Dewan Pembina di Persija, Klub Macan Kemayoran ini berhasil menjadi kampiun Liga I tahun 2018 lalu.

Jenderal Polisi bintang tiga ini juga ditunjuk sebagai CDM (Chef de Missions) memimpin kontingen Indonesia dalam ajang Asian Games lalu.

Kemudian, untuk Erick Thohir, alasan Kesit, sudah lama berkecimpung dalam perkembangan olahraga di Indonesia. Selain itu juga, Erick dekat dengan dunia sepak bola.

“Dia pernah menjadi pengurus klub liga, selain itu Erick juga pernah memiliki klub Inter Milan jadi pengalamannya ada mengurus sepak bola,” jawab Kesit

Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk membenahi PSSI, sebagai olahraga yang paling digemari rakyat Indonesia.

“Jangan lupa, PR ketum berikutnya cukup banyak. Jadi harus tegas dan memiliki leadership yang kuat. Sehingga upaya bersih-bersih terhadap organisasi terus dilakukan,” ujar Kesit.

Neta S Pane

Unsur Polri

Menimpali pernyataan Kesit, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane berpandangan sedikit berbeda. Ia tak membantah pendapat Kesit. Hanya mengingatkan, faktor utama belum berhasilnya memajukan sepak bola di Indonesia ini adalah, masih banyaknya campur tangan ‘para perusak’ persepakbolaan di Indonesia.

“Saya memang tak memahami penuh masalah persepakbolaan. Tapi saya kan juga mendapat informasi. Ada yang memaksakan kehendak memasukan pemain, meski tak layak ukuran pelatih, juga intervensi penuh dalam pembinaan, meski telah ada aturan mainnya,” kata Neta kepada www.beritabuana.co.

Nah paling mempengaruhi kemajuan sepak bola di Indonesia, kata Neta, mafia sepak bola itu. “Saya malah yakin mafia itu yang pegang peranan hancurnya sepak bola Indonesia,” tegas Neta.

Menurut Neta, keberadaan mafia itu sudah sangat lama. Terus dan terus berlanjut hingga kini. Kemudian dibongkar bertepatan dengan hadirnya Klub Bhayangkara FC di Liga 1.

Munculah Bhayangkara FC dengan konteks lain yang lebih mupuni dalam persepakbolaan nasional. Bhayangkara juga yang paling bisa mengendus permainan para mafia mafia sepak bola itu.

Kehadirannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Klub sepakbola binaan polri itu sudah berhasil menunjukkan prestasinya. Tidak hanya prestasi di lapangan hijau tapi juga prestasi dalam pembinaan maupun manajemen.

Jika klub lain ada yang kedodoran dalam penanganan manajemen, terutama dalam menggaji personilnya, Bhayangkara FC tidak pernah mengalaminya.

Apalagi sepakbola nasional tengah didera masalah serius, semakin mengguritanya mafia pengaturan skorer dan mafia suap, yang menggerogoti prestasi sepakbola nasional.

Mengguritanya mafia pengaturan skorer menunjukkan ketidakmampuan ketua umum PSSI dalam membina sepakbola nasional.

“Mafia ini yang saya maksud faktor utama tak majunya sepak bola di Indoenesia. Ini tak bisa ditelorir. Saya duga mafia ini terus bermain, meski ketua umum ke ketua umum lainnya berganti, selalu ada,” kata Neta.

Neta mengaku, tak masalah mantan Wakapolri Syafruddin menjadi ketum PSSI. Begitu juga dua nama lainnya yang dirinya dengar sudah siap masuki bursa ketum, seperti Irjen Condro Kirono (Kapolda Jateng) dan Ka-BIN Budi Gunawan. Atau nanti mungkin ada yang lainnya lagi.

Neta pun mengaku tiga sosok perwira tinggi Polri tersebut. Disamping tegas dalam meminpin, juga memiliki Tidak kemampuan dibidang sepak bola.

Bagi Neta sudah saatnya dari unsur Polri atau pimpinan Bhayangkara FC diberi kesempatan menjadi Ketum PSSI.

Jika unsur Polri yang menjadi ketua umum, sudah barang tentu banyak keuntungan yg bisa diraih. Antara lain mafia skorer akan berfikir ulang jika ingin beraksi. Berbeda dengan ketum dijabat unsur lain.

Selain itu keterlibatan klub Bhayangkara FC di dalam liga Indonesia tentu membuat para pengelolanya paham betul siapa saja mafia bola di PSSI sehingga akan gampang menyapu dan menciduknya.

Tak Tersentuh

Selama ini, lanjut Neta, mafia bola di PSSI seakan tak tersentuh. Itu terjadi dari ketua umum ke ketua umum. Isu pengaturan skor, isu suap, dan isu perjudian bola hanya menjadi buah bibir yang semakin merusak prestasi sepakbola nasional.

Indonesia hanya menjadi negara besar yang menjadi pecundang di dunia sepakbola akibat ulah mafia bola.

Kini polri sudah bergerak membersihkannya, meski baru menyentuh kulit-kulitnya. Aktor-aktor besar di balik mafia bola itu belun tersentuh.

“Jika figur polisi yang menjadi Ketum PSSI atau pengelola Bhayangkara FC yang ikut memimpin PSSI tentu akan lebih bisa menyapu bersih mafia bola dari PSSI dan seluruh lapisan organisasi sepakbola nasional. Dengan demikian diharapkan sepakbola Indonesia bisa menunjukkan taring prestasinya,” tutup Neta. (Kds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *