Ini Kisah Aceng Pedagang Kopi di Gedung DPR

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Jarum jam menunjukkan pukul 14.36 WIB, Kamis (7/2/2019). Suhu udara yang cukup panas siang ini dilewati Aceng dengan melayani pembeli dagangannya.

Setelah membuat kopi panas, dia kembali melayani pembeli rokok. Kemudian ada lagi pembeli meminta rokok. Saat itu, pembelinya lumayan banyak.

Pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat berusia 38 tahun ini melayani dengan semangat. Nampak keringat diwajah dan lehernya. Tetapi itu diabadikan demi usaha yang dijalaninya.

“Senang lah berdagang disini,”ujar Aceng dengan dialek Sunda, saat ditemui beritabuana.co di lapaknya, yang terletak di gedung pemadam kebakaran, di belakang gedung mekanik, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta.

Setiap hari kerja, Aceng berdagang disini. Dagangannya hanya makanan dan minuman ringan. Ada kue dan roti yang harganya tidak lebih dari Rp 2.000 per bungkus. Ada juga kacang.

Sedang minuman, dia menjual kopi hitam dan kopi susu, kemudian ada minuman botol dingin. Tak ketinggalan, Aceng juga menjual beberapa jenis rokok.

Pembeli dagangan Aceng ini lebih banyak para pekerja bangunan, yang sehari-hari mengerjakan beberapa proyek di lingkungan gedung DPR atau MPR. Tapi, ada juga pembelinya para pegawai negeri di Setjen DPR termasuk Satpam. Tak hanya itu, beberapa kontraktor juga ikut menjadi pelanggan Aceng.

Aceng mengaku, para pembelinya itu sudah dikenal baik, sehingga dia pun tak keberatan bila diantara mereka ada yang ngutang karena lagi tanggal tua. “Niat kita usaha saja, gak usah neko-neko,” kata Aceng sembari menyatakan, selama berdagang di lokasi pemadam kebakaran ini, dia berusaha baik dan ramah kepada semua orang.

Aceng sebetulnya hanya melanjutkan usaha ini setelah orang tuanya mulai sepuh. Sehari-hari dia berjualan ditemani adeknya.

“Usaha Ini awalnya dijalani bapak, disini bapak dipanggil Pak Didi,” kata Aceng.

Karena bapaknya sudah berusia 80 tahun, kini lebih banyak tinggal di kampung halaman mereka, Tasikmalaya. Sedang dia sendiri baru sejak tahun 2000 mulai ikut berdagang membantu bapaknya.

Dia bercerita, bapaknya mulai datang dan berdagang di gedung DPR sejak tahun 1998 silam, tepatnya saat reformasi. Ketika itu, Pak Didi masih berdagang keliling. Namun setelah itu, petugas pemadam kebakaran yang ada di komplek gedung DPR menawarkan bapaknya berdagang di halaman gedung itu.

“Jadi, bapak ditawari berdagang disini,” ujar Aceng, anak ke 6 dari 7 bersaudara.

Aceng mengaku, dari hasil penjualannya, ternyata bisa menghidupi 3 keluarga.

“Alhamdulillah, dari usaha kecil-kecilan ini, saya, adik saya dan bapak bisa menjalani hidup dengan baik,” ujarnya.

Meski bapaknya sudah tidak ikut berjualan, rupanya Aceng tetap menyisihkan uang hasil penjualan dagangan ke bapaknya di kampung halaman.

“Jatah bapak tetap ada,” katanya tersenyum sambil memasukkan uang penjualan rokok ke kantong kresek plastik.

Aceng menambahkan, dia menjalani apa adanya dengan usaha berdagang ini. Dia memilih tetap enjoy, tidak terlalu memikirkan yang lainnya. (Ndus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *