BERITABUANA.CO, JAKARTA – Rumah Sakit (RS) Ariya Medika , Tangerang saat ini terancam bangkrut. Hal itu terungkap di persidangan  kasus penggelapan uang perusahaan Rp 7 miliar yang digelar di Pengadilan Negeri Tangerang, Jumat (25/1).

Dipersidangan saksi pelapor, Suherman Mihardja menceritakan bagaimana perbuatan terdakwa Hartanto Jusman  selaku Direktur Utama PT Bumi Sejahtera Ariya (PT BSA ) saat menguras habis keuangan RS Ariya Medika hingga terancamnya kebangkrutan.

“Bahwa perbuatan Direktur Utama PT BSA tersebut dengan memindahkan uang perusahaan ke rekening pribadi sebesar Rp 7 Miliar, yang kemudian terdakwa kabur dari Indonesia selama 7 bulan tanpa diketahui keberadaannya hingga Febuari 2018 baru kembali ke Indonesia setelah dideportasi oleh pihak imigrasi Malaysia karena melebihi batas waktu tinggal,” kata Suherman saat memberikan kesaksiannya.

Sebelum melaporkan kasus ini, saksi Suherman yang juga berprofesi sebagai pengacara, telah berusaha menghubungi terdakwa dan keluarganya namun tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Kemudian ditindak lanjuti dengan mengirimkan somasi via pesan WhatsApp (WA) pada Hp terdakwa sebanyak 2 kali yaitu tanggal 3/7/2017 dan 17/7/2017 untuk segera mengembalikan dana milik perusahaan.

Lantaran tidak ada tanggapan itikad baik dari terdakwa Hartanto Jusman, Suherman Mihardja yang juga sebagai Direktur di perusahaan PT BSA tersebut kemudian melaporkan ke Polres Metro Tangerang tertanggal 7/8/2017.

Pada persidangan, Suherman Mihardja menjelaskan mengenai kepemilikan saham di perusahaan PT BSA. Tercatat 3 orang pemegang saham yaitu Mareti Mihardja ( Komisaris) yang juga kakak kandung Suherman Mihardja dan istri dari Hartanto Jusman memiliki 250 saham, dan terdakwa sebagai Direktur Utama memiliki 175 Saham, Suherman Mihardja sebagai Direktur memiliki 75 saham.

“Akibat perbuatan terdakwa tersebut perusahaan PT BSA, tidak mempunyai dana operasional, baik untuk biaya pembayaran jasa medis, gaji karyawan dan obat, sehingga saya harus menggunakan uang pribadi untuk melanjutkan operasional pelayanan di bidang kesehatan terhadap masyarakat di RS Ariya Medika,” jelasnya.

Ia mengatakan, sejak perusahaan ini berdiri sampai adanya masalah tersebut, dirinya tidak ikut dalam operasioanal dan management, karena sepenuhnya diserahkan kepada terdakwa dan kakaknya Mareti Mihardja. Termaksud dalam melakukan proses pembayaran yang melakukan pembukaan cek dan giro atas nama PT BSA.

“Bahwa terdakwa selalu memindahkan uang dari rekening PT BSA ke rekening pribadinya setiap akhir bulan dan disetorkan kembali ke rekening PT BSA pada awal bulan, namun hasil dari pemindahan dana tersebut terdakwa mendapat keuntungan bunga, dan keuntungan bunga tersebut tidak diserahkan ke perusahaan karena hanya pokoknya saja,” ungkap Suherman.

Suherman juga menjelaskan, bahwa Mareti Mihardja (Komisaris) PT BSA istri terdakwa mengalami sakit selama 2 hari, namun baru dibawa ke RS Mayapada pada tanggal 21 Juni 2017 atas perintah dirinya kepada Hartanto Jusman. Namun karena kondisinya sudah parah, sehingga Mareti Mihardja dinyatakan dalam keadaan koma, mengalami stroke dan dimasukan ke unit ICU, akhirnya meninggal dunia pada tanggal 22 September 2017.

“Pada saat istri terdakwa meninggal dunia, terdakwa tidak mengetahuinya, karena sejak terdakwa memindahkan dana perusahaan ke rekening pribadi pada tanggal 22 Juni 2017, keesokan harinya terdakwa kabur meninggalkan istri dan anak serta perusahaannya, selama 7 bulan ke luar negeri dan baru kembali Febuari 2018,” papar Suherman.

Dalam Perkara ini, JPU menjerat terdakwa Hartanto Jusman ( 56 ) dengan Pasal 374 dan 372 KUHP atas perbuatanya menggelapkan uang milik perusahaan senilai Rp 7 miliar. (isa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here