BERITABUANA.CO, JAKARTA – Jabatan Kabareskrim Polri memang memang prestisius, sehingga pergantian orang nomor satu di bidang penyidikan perkara kriminal ini selalu mendapat perhatian baik di internal Polri maupun masyarakat umum (publik).

Mengapa jabatan Kabareskrim sangat strategis? Pertanyaan ini penyebabnya, karena beberapa pati bintang tiga yang mengemban jabatan ini belakangan dipromosi memimpin Korps Bhayangkara. Sebutlah Jenderal Bambang Hendarso Danuri, yang pada bulan Oktober 2008 dilantik jadi Kapolri menggantikan Jenderal Soetanto. Belakangan, Jenderal Soetarman juga bulan November 2013 dipromosi jadi Kapolri menggantikan Jenderal Timur Pradopo.

Penunjukkan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Idham Azis menjabat Kabareskrim Polri memang sudah diperkirakan sebelumnya. Apalagi saat memimpin jajaran Polda Metro Jaya selama kurang lebih 1 tahun 6 bulan, Idham Azis dianggap berhasil.

Prestasi Idham Azis terlihat keberhasilannya mengamankan sejumlah demo buruh dan mahasiswa termasuk demo massa 212 tahun 2018 lalu. Selain itu, secara sinergitas dengan TNI mengamankan pesta olahraga Asian Games 2018 dan Asian Para Games.

Promosi yang diperoleh Irjen Idham Azis sesuai Surat Telegram Kapolri Nomor ST/186/l/KEP 2019 tertanggal 22 Januari 2019 yang ditandatangani Asisten SDM Irjen Eko Indra Heri, juga menjadi hadiah ultah bagi lulusan Akpol 1988 A ini.

Betapa tidak, tanggal 30 Januari Idam Azis akan merayakan ultah yang ke-56. Penempatan pria kelahiran Kendari, Sulawesi Tenggra tahun 1963, di posisi Kabareskrim memang sangatlah tepat. Sejak berpangkat Ipda (d/h Letda) Idham sudah berkarir di bidang reskrim.

Masa perwira pertama dihabiskan Idham di wilayah Polda Jabar. Begitu, selesai mengikuti PTIK, Idham mulai merambah ke wilayah Polda Metro Jaya. Dimulai menjabat Kasat Reskrim Polres Depok kemudian dipromosi memimpin Satuan Reskrim Polres Jakarta Barat.

Di wilayah yang rawan kejahatan jalanan (street crime) dan narkoba ini Idham dianggap berhasil, sehingga dipromosi menjabat Kasat Judi Susila ( Vice Control) Ditreskrim Polda Metro Jaya. Dari sini Idham yang saat itu berpangkat Mayor (kini Kompol) dipromosi menjadi Wakasat Serse Umum, mendampingi Kasat Serse Umum Letkol (AKBP) Tito Karnavian yang saat ini menjabat Kapolri.

Dengan promosi ini Idham Azis bakal menyandang bintang tiga di pundaknya. Perjalanan karier Idham Azis memang belakangan banyak berkutat di bidang tim Densus 88 Antiteror Polri.

Idham bahkan termasuk salah satu perwira yang mendapatkan kenaikkan pangkat luar biasa atas prestasinya bergabung dalam tim Densus 88 yang menewaskan buronan kelas kakap Dr. Azahari dalam penggrebekan di Batu, Malang, 10 November 2005.

Atas prestasi itu, Idham yang saat itu masih berpangkat AKBP diberi penghargaan oleh Kapolri Jenderal Soetanto, bersama rekan satu timnya seperti, Tito Karnavian, Petrus Reinhard Goloses (kini Kapolda Bali) dan Rycko Amelza Dahniel dan beberapa perwira lainnya.

Sehari setelah melumpuhkan Dr. Azahari Bin Husin Insinyur ahli bom, WN Malaysia yang menjadi otak pelaku bom Bali dan Hotel Mariott, oleh Kadensus Brigjen Brigjen Surya Dharma, Idham diperintahkan berangkat ke Poso. Esok harinya Idham langsung terbang ke dari Surabaya menuju Palu dan tiba di Poso sore harinya. Di sana ia bergabung dengan Tito Karnavian yang sudah lebih dulu ke sana.

Mereka kemudian bersama memimpin penyelidikan mutilasi tiga gadis beragama nasrani di Poso. Tepat 12 November 2005, Idham menjadi Wakil Satgas Antiteror Bareskrim di Poso mendampingi Tito Karnavian.

Beberapa prestasi yang ditoreh Idham di Densus 88 kemudian membuat pimpinan Polri mempromosikannya memimpin wilayah Polres Jakarta Barat akhir tahun 2008. Hanya setahun lebih, Idham kemudian didapuk menjabat Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya 2009.

Pada September 2010, Idham kembalib ke Densus 88 Antiteror dan menjabat sebagai Wakil Kepala Densus 88 mendampingi Tito. Jabatan ini diembannya 2,5 tahun dengan segudang prestasi, termasuk penggrebekan buronan Noordin M. Top di Solo.

Kemudian Idham dipercaya memimpin Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri dengan pangkat Brigadir Jenderal. Kemampuannya di bidang antiteror, akhirnya Kapolri menunjuk Idham menjabat Kapolda Sulawesi Tengah pada Oktober 2014.

Pengalaman ini cukup menantang, karena wilayah Poso masih rawan konflik, karena masih berkeliaran kelompok sipil bersenjata. Ia pun terlibat operasi menumpas teroris Operasi Camar Maleo (2014-2016) dan Operasi Tinombala (2016) mengejar buronan Santoso dkk.

Buronan Santoso, memang baru berhasil disergap dan ditembak mati saat Kapolda Brigjen Rudy Safriyadi, tapi setidaknya Idham telah membuka roadmap bagi penggantinya, karena saat menjabat Kapolda Sulteng, Idham sangat sering berada di Poso dan sekitarnya.

Idham, dari Kapolda Sulteng, kemudian menempati pos sebagai Inspektur Wilayah ll Itwasum Polri. Belum genap setahun, Idham kemudian dipromosi jadi Kadiv Propam Polri pada September 2016 dengan pangkat bintang dua.

Di pertengahan tahun 2017, Idham kembali ke “rumah” lamanya memimpin Polda Metro Jaya. Hari ini (24/1) 2019, Idham Azis yang sejak perwira muda malang melintang membasmi kejahatan di ibukota, bakal dilantik memimpin anggota Reskrim se Indonesia. (nico/Amin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here