BERITABUANA.CO,JAKARTA – Setelah berjuang selama 2  tahun, International Maritime Organization (IMO) melalui Experts Working Group on Ship Routeing di Markas Besar IMO, Senin (21/1) akhirnya menyetujui proposal Indonesia terkait bagan pemisahan alur laut atau Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok.

“Selangkah lagi Indonesia akan mempunyai bagan pemisahan alur laut atau TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok, dan menjadi negara kepulauan pertama di dunia yang memiliki TSS yang disahkan IMO dan berada di dalam ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) I dan ALKI II,” kata Direktur Kenavigasian Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Basar Antonius dari London, Rabu (23/1)

Selanjutnya, tutur Basar, proposal Indonesia terkait TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok tersebut akan dilaporkan ke Plenary dalam Sidang Sub Committee on Navigation, Communications and Search and Rescue (NCSR) ke-6 di Markas Besar International Maritime Organization (IMO) London, Inggris pada, Jumat (25/1) mendatang.

Dikatakan Basar, penetapan TSS di selat Sunda dan Selat Lombok diperlukan untuk menjamin keselamatan pelayaran di selat yang menjadi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan cukup ramai lalu lintasnya. “Dengan adanya TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok, menunjukan komitmen Pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa wilayah perairan di Indonesia aman,” ujarnya.

Nantinya, lanjut Basar, sidang Plenary IMO NCSR ke-6 akan merekomendasikan proposal TSS Selat Sunda dan Selat Lombok untuk diadopsi dalam Sidang IMO Maritime Safety Committee (MSC) ke-101 bulan Juni 2019 mendatang.

Basar menjelaskan, perjuangan delegasi Indonesia untuk mempertahankan proposal TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok perlu diapresiasi mengingat tidak sedikit dari delegasi negara anggota IMO yang hadir dalam Experts Group dimaksud yang memberikan masukan, koreksi dan saran terhadap kedua proposal TSS tersebut.

“Keberhasilan mempertahankan proposal TSS Indonesia tersebut juga dipengaruhi oleh strategi Indonesia yang melakukan pendekatan dan lobi untuk mendapatkan dukungan negara anggota IMO dengan mensponsori coffee Break dan menampilkan video feature TSS di sela sidang NCSR ke-6 serta melakukan pertemuan informal dengan negara anggota IMO,” papar Basar.

Dikemukakan Basar, dalam Experts Group on Ship Routeing,  kedua proposal TSS Indonesia dibahas secara bergiliran dimulai dari TSS di Selat Sunda yang dilanjutkan dengan TSS di Selat Lombok. “Ini merupakan prestasi bagi Indonesia karena mampu mengawal dan mempertahankan kedua proposal TSS tersebut di Experts Group dalam 1 hari,” ujarnya.

Basar mengatakan, keberhasilan Indonesia untuk mempertahankan proposal TSS di kedua Selat tersebut mendapatkan pujian dari negara anggota IMO yang hadir dalam Experts Group serta dijadikan contoh bagi negara-negara lain dalam mengajukan proposal TSS di negaranya ke IMO.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Navigasi dan Keselamatan Maritim Kemenkomar, Odo Manuhutu, berkesempatan menyampaikan general information terhadap pengajuan TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok dalam Experts Working Group on Ship Routeing. “Indonesia mengajukan TSS untuk memastikan keselamatan, perlindungan lingkungan maritim dan keamanan serta pertumbuhan ekonomi dan juga tentang penyediaan barang-barang Internasional,” beber Odo.

Menurutnya, TSS di kedua selat berfungsi untuk memastikan keselamatan dan keamanan. Pada 2018, jumlah pelayaran di Selat Lombok kurang lebih 40.000 kapal. Jumlah di Selat Sunda lebih dari 50.000 kapal. Jumlah ini akan terus meningkat setiap tahunnya.

“Dengan adanya TSS Selat Sunda dan Selat Lombok, diharapkan dapat mengurangi jumlah kejadian atau kecelakaan laut di kedua Selat tersebut dengan memisahkan arus lalu lintas yang berlawanan di wilayah tersebut,” terang Odi, sembari menyebutkan untuk negara kepulauan seperti Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau, keselamatan bukanlah pilihan. Tapi Keselamatan adalah suatu keharusan.

Untuk mendukung hal tersebut, tambahnya, salah satunya Indonesia bekerjasama dengan IMO menyelenggarakan  Workshop on Hazard Identification and Scoping Exercise to Identify Safety Issues Pertaining to Passenger Ships on non International Voyages pada 26-30 November 2018.

Selain itu, rinci Odo, TSS di kedua selat juga berfungsi untuk memastikan pertumbuhan ekonomi di sektor maritim. Selat Sunda menghubungkan dua dari lima pulau terbesar di Indonesia. TSS menghubungkan Pulau Jawa dengan lebih dari 140 juta orang dengan Pulau Sumatera dengan lebih dari 50 juta orang.

“Kami telah merencanakan untuk meningkatkan investasi kami dalam keselamatan pelayaran. Kami akan menganggarkan lebih dari 20 juta Dolar AS dalam tiga tahun ke depan untuk meningkatkan peralatan utama di kedua selat tersebut termasuk Vessel Traffic Services (VTS) dan pelatihan bagi peningkatan kompetensi para petugas,” tutup Odo. (yus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here