SETIAP pengendara kendaraan bermotor di jalan umum baik kendaraan pribadi ataupun angkutan umum baik orang maupun barang haruslah berhati-hati. Di samping mempunyai SIM pengendara atau sopir kendaraan harus dalam kondisi sehat jasmani dan rohani.

Selain itu, untuk kendaraan umum harus laik jalan, karena resiko yang dihadapi sangat fatal jika sampai menimbulkan kecelakaan yang sampai mengakibatkan korban jiwa. Konsekwensi hukum yang dihadapi si pengemudi sangatlah berat jika sampai hal itu terjadi.

Beberapa kasus membuktikan hal tersebut, misalnya pengemudi angkutan umum yang divonis cukup berat, karena mengemudikan kendaraan ugal-ugalan disertai kendaan yang tidak laik jalan.

Mungkin, kasus besar yang sempat menjadi rujukan para penegak hukum ialah kasus “Metromini Maut” yang tercebur di Kali Sunter, Kelapa Gading, 24 tahun yang lalu (1994). Ramses Silitonga, sang sopir divonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang kemudian diperkuat Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Mahkamah Agung RI.

Selain menjalani penjara 15 tahun, Ramses Silitonga yang mengakibatkan 33 korban meninggal dunia dan 13 orang luka-luka dicabut SIM-nya selama 10 tahun, setelah divonis tetap 2 Mei 1995.

Kronologis peristiwa itu terjadi Minggu (6/3/1994) siang, Ramses mengemudikan Metromini U-07 jurusan Senen-Semper melewati Cempaka Putih dan Jalan Yos Soedarso. Rupanya sewaktu di Jalan Yos Soedarso, Sunter, Metromini yang sarat penumpang ini melaju kencang, sehingga sewaktu Ramses hendak menghindari lubang di jalan Metromini itu tak dapat dikendalikan sehingga menerjang pembatas Jalan Yos Soedarso ke jalur timur kemudian terus nyemplung ke Kali Sunter yang cukup dalam. Akibatnya fatal korban berjatuhan dan sang sopir Ramses Silitonga yang semula disangka ikut jadi korban justru menghilang. Hilangnya Ramses, justru menyulitkan penyidik lalulintas Polres Metro Jakarta Utara untuk menuntaskan kasus Metromini Maut ini.

Kapolres Jakarta Utara AKBP (d/h Letkol) saat itu menugaskan Iptu (d/h Lettu) Unggul Sedyantoro untuk memimpin pencarian RS. Memang, Iptu Unggul Sedyantoro saat itu menjabat Wakil Kepala Satuan Lalulintas Polres Jakarta Utara.

Peristiwa Panjang Melelahkan

Drama pencarian dan pengejaran tersangka RS alias Hon merupakan peristiwa yang panjang dan melelahkan. Iptu Unggul sebagai ketua tim pelacak memulai pencarian setelah peristiwa maut 6 Maret 1994.

Apalagi, karena peristiwa itu sangat menyita perhatian publik, Kapolda Metro Jaya saat itu Irjen (d/h Mayjen) Drs Hindarto, memerintahkan Unggul untuk dapat menangkapnya dalam waktu singkat.

“Sewaktu diperintahkan Kapolda dan Kapolres saya sudah punya tekad untuk dapat menangkap RS dimana pun dia sembunyi,” tutur Unggul Sedyantoro, yang kini berpangkat Komisaris Besar kepada www.beritabuana.co.

Kisah pengejaran RS alias Hon, ternyata penuh lika-liku. Unggul mengaku bersama tim harus melalui jalan setapak berjam-jam dan melewati hutan belantara Sumatera dengan ancaman diterkam harimau atau dipatok ular.

“Kami juga harus menyeberangi sungai dengan boat untuk menuju tempat persembunyian Hon di desa terpencil di Sumatera Utara,” kisah Iptu Unggul Sedyantoro, kepada wartawan Kompas Robert Adhi KSP Agustus 1994.

Pengejaran dimulai dari kamar mayat RSCM, setelah diketahui RS alias Hon tidak termasuk di antara 33 orang yang tewas. Nama Hon alias RS dikatakan korban jatuh dari pohon. Melihat luka Hon pada lengan kiri, polisi menduga lengannya patah tulang, sehingga polisi mengecek ke sejumlah dukun patah tulang di Jakarta dan Jawa Barat, tapi hasilnya nihil.

Pencarian kemudian dilanjutkan ke mertua Hon, tapi mereka menutup mulut rapat-rapat. Upaya lain, polisi menanyai anak laki-laki Hon yang baru berusia 10 tahun. Dari si anak, polisi mendapatkan dua alamat saudara Hon di Kalideres, Jakarta Barat. Dari sini polisi memperoleh 9 alamat di Jakarta, satu di Banyuwangi. Tapi RS alias Hon bak ditelan bumi.

Saat masyarakat menginginkan RS alias Hon segera tertangkap, polisi justru memperoleh informasi sopir maut sudah tertangkap dan ada di Polsek Tambun, Bekasi 29 Maret 1994.

Ternyata kabar itu isapan jempol, Simon Simarmata yang mengaku-ngaku sopir maut ternyata sakit ingatan. Kemudian 5 April Polres Dairi, Sumut, mengumumkan telah meringkus sopir metromini maut itu. Sami mawon, rupanya orang yang mengaku-ngaku ini hanya ingin memburu hadiah.

Karena sudah telanjur berada di Sumut, Unggul melanjutkan perjalanan ke kampung halaman RS alias Hon di Siborong-Borong lewat jalan darat. Tapi keluarga Hon di sana pun tidak koperatif.

Suport Kapolda

Sepulang dari Sumut, diakui Unggul, dia diperintahkan Kapolda Irjen Hindarto untuk tetap melacak keberadaan Hon sampai ketemu. “Suport dari pak Kapolda memberi semangat bagi saya untuk tidak menyerah,” kata Unggul, lulusan terbaik (Adhi Makayasa) Akpol 1988 A ini.

Hanya istirahat sejenak Unggul dan tim segera ke Banyuwangi selama 5 hari dan terminal Solo 3 hari, lereng Gunung Sumbing, Wonosobo, 4 hari dan terminal Rajabasa Lampung 8 hari. Pokoknya setiap informasi dugaan keberadaan RS alias Hon pasti dilacak, seperti di terminal Pondok Kopi Jaktim dan di Bandung di sebuah pabrik. Tapi semuanya nihil.

Info tentang keberadaan istrinya juga dicek, namun setelah dilacak ke Pasar Minggu dan Pondok Labu, polisi tetap tak menemukannya.

Beberapa bulan melacak tidak mendapatkan hasil, bulan Juli polisi mendapat informasi penting (A1), bahwa RS ada di Rantau Prapat, ibukota Kab. Labuhan Batu, Sumut.

Pada 25 Juli, polisi melacak Ny. Ros istri Hon di Kelurahan Makasar Jaktim, ternyata sedang berjualan di warung milik saudaranya. Dari Ny. Ros polisi memperoleh silsilah keluarga Hon secara lengkap dan ini sangat membantu pelacakan berikutnya.

Kedua kalinya, Iptu Unggul dan Brigadir (d/h Serka) Drajad 6 Agustus berangkat ke Sumut dengan Kapal Pelni KM Kambuna dari Tanjung Priok dan tiba di Belawan dua hari kemudian. Setelah melapor ke Direktur Reskrim (d/h Kadiserse) Kombes Drs Suyitno, Iptu Unggul dan Brigadir Drajad ditemani dua polisi setempat Bripka (d/h Serma) M. Nasution dan Bripda Y.Simamora menuju Desa Taloan, Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhan Batu, Sumut.

Pada 9 Agustus dengan dibantu Kapolsek Kampung Rakyat Iptu Rudi Parapat, Unggul bersama tim mengecek semua data penduduk di 12 desa di kecamatan itu, terutama pendatang baru. Malam itu Unggul tidur di rumah dinas Kapolsek. Esok harinya ( 10/8) polisi mengecek perkebunan sawit milik saudara Hon di Desa Tolan.

Untuk menjangkau daerah itu Unggul bersama tiga anggota lainnya harus berjalan kaki selama 3 jam dan beristirahat di hutan belantara sampai malam hari.

Mereka diliputi rasa takut, karena di hutan itu berkeliaran harimau sumatra dan ular berbisa. “Rasa takut itu hilang, karena saya sudah bertekad menemukan RS alias Hon,” kisah Unggul mengenang peristiwa yang tak mungkin dia lupakan.

Mereka kemudian berpencar. Unggul dan Simamora ke Desa Kampung Mulya, sedangkan Drajad dan Nasution ke Desa Sipadan Jaya. Kedua desa itu letaknya sangat terpencil, hutannya lebat dengan jalan setapak.

Selama 2 jam Unggul berjalan kaki ke Desa Kampung Mulya, karena persediaan air terbatas, mereka terpaksa minum air sungai.

Mendapati sungai mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal dengan kecepatan 30 km/jam. Waktu ditempuh 3 jam , Unggul dan Simamora tiba di kilang kayu 11 Agustus pukul 11.00 siang.

Kedua polisi ini pura-pura hendak bekerja di kilang kayu dan mereka langsung diterima. Baru satu jam menyamar, Unggul melihat ada pria mirip RS. Setelah bertanya, pekerja lain menyebut RS sebagai pengawas. Tapi Unggul terus mengamati gerak-gerik dan ciri-ciri RS, antara lain lengan kiri dan dahinya masih luka.

Begitu berkenalan Unggul ditawari rokok dan mereka bercakap-cakap. Unggul bahkan ditawari RS untuk main sepak bola menjelang peringatan 17 Agustus.

Setelah ngobrol setengah jam, Unggul menemui kepala kantor dan membuka penyamarannya. Kemudian Unggul mendatangi Hon yang duduk di teras. Dia lalu menunjukkan foto RS dan istrinya.

Saat itu juga Hon terlihat kaget, dia tak bisa bicara lagi. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya. “Kamu RS kan?” tanya Unggul. “Ya,” kata RS lemah.

“Saya petugas dari Jakarta,”ujar Unggul sambil memperlihatkan surat perintah penangkapan. Sopir maut ini pun pasrah. Ia tak menyangka di tempat sunyi, terpencil polisi masih sanggup melacaknya.

Hari itu juga RS alias Hon dibawa dengan kapal, ojek dan menumpang mobil perkebunan. Suasana perjalanan sampai malam hari, sehingga mereka sampai di polsek setempat pukul 21.00. Satu jam perjalanan mereka sampai di Polres Labuhan Batu. RS lalu diinterogasi sampai pukul 05.00 WIB subuh, Jumat (12/8/1994). Pagi itu juga RS segera dibawa Unggul ke Medan dan sorenya terbang ke Jakarta.

Penangkapan Ramses Silitonga ini telah mengakhiri perjuangan Iptu Unggul Sedyantoro, selama 6 bulan. Ini prestasi dari kerja keras tanpa henti.

Kasus Ramses Silitonga ini menghentakkan sejumlah pakar hukum dan lalu lintas. Penggunaan pasal-pasal UULAJ 1992, sepertinya tak sanggup menjerahkan perbuatan Ramses Silitonga, sehingga salah satu pakar hukum lalu lintas AKBP Herman SS (terakhir Kapolda Jatim berpangkat bintang dua) kemudian mengusulkan dalam BAP Ramses Silitonga, untuk menerapkan Pasal 338 KUHP (pembunuhan).

Ternyata apa yang diusulkan itu dimasukkan dalam BAP dan juga didukung pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Utara.

Majelis Hakim PN Jakarta Utara diketuai Soemardjo, Thomas Sumardi dan Soetatmo Hadi Broto Sedjati memvonis Ramses Silitonga dengan hukuman 15 tahun. Dengan putusan ini kasus sopir metromini maut ini akhirnya menjadi yuris prudensi dan jadi rujukan bagi kasus-kasus serupa di kemudian hari. (nico karundeng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here