BERITABUANA, JAKARTA–Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri meminta seluruh perusahaan dalam kegiatan usahanya mampu menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) secara baik dan bukan semata-mata memenuhi kewajiban dan tanggungjawab sosial kepada masyarakat sekitar.

“Tapi, mendorong perusahaan agar tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan yang memanusiakan manusia,” ujar Hanif Dhakiri dalam acara pencanangan Bulan K3 Nasional 2019 bertema “Wujudkan Kemandirian Masyarakat Indonesia Berbudaya K3 untuk Mendukung Stabilitas Ekonomi Nasional” di Istora GBK Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Perusahaan yang memanusiakan manusia, mrnurutnya, perusahaan yang pemenuhan K3-nya baik dan berkualitas. Artinya, memenuhi standar K3, memenuhi sistem manajemen K3, bukan semata karena diaudit dan bukan semata karena atasan datang untuk inspeksi.

“Perusahaan melakukan itu sebagai bagian dari seluruh proses produksi barang dan jasa di perusahaan yang mengedepankan keselamatan dan kesehatan kerja,” ujar Hanif. Pada kesempatan ini ia meminta serikat pekerja terus menggelorakan budaya K3 di lingkungan kerja dan tempat kerja masing-masing.

Data BPS menyebutkan dari 131 juta angkatan kerja nasional, sebanyak 95 persen didominasi oleh tamatan SD dan SMP. Atas kondisi tersebut, Hanif menilai sangat penting dilakukan sosialisasi budaya K3. Ia juga ingin pengusahanya sadar, pekerjanya juga sadar mengenai K3.

Terkait peringatan K3, BPJS Ketenagakerjaan berpartisipasi dengan menyerahkan secara simbolis bantuan Alat Pelindung Diri (APD) kepada perusahaan peserta BPJS TK. Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK) Krishna Syarif yang menyerahkan APD mengatakan, APD itu berfungsi sebagai upaya preventif dalam menekan angka kecelakaan kerja pada sektor konstruksi.

“Setiap tahunnya, rata-rata BPJS TK melayani 130 ribu kasus kecelakaan kerja dari kasus-kasus ringan sampai dengan kasus- kasus yang berdampak fatal. Di antara kasus yang ditangani masih didominasi kasus-kasus kecelakaan kerja ringan di lingkungan pekerjaan yang berkarakter pabrik,” jelas Krishna.

Dalam konteks ini, menurutnya, BPJS TK memandang bahwa kasus-kasus yang dilaporkan belum memiliki dampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Sedang kasus-kasus dengan fatalitas tinggi masih didominasi oleh kasus kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan pada perusahaan di industri pengolahan dan konstruksi. (Ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here