Alumni SMPN 130 Berikan Bantuan Sembako dan Uang Tunai Pada Korban Tsunami Selat Sunda

BERITABUANA, PANDEGLANG – Bantuan untuk korban tsunami Selat Sunda, Banten dari alumni SMPN 130 (Stipoel) angkatan 82 tersalurkan Minggu (13/1/2019). Bantuan berupa paket sembako dan uang Rp 100 ribu (per paket), tersebut diterima oleh sekitar 35 kepala keluarga (KK) warga Desa Cisiih, Sumur, Pandeglang, Banten.

Utusan Stipoel’82 yang datang ke lokasi bencana, Iwan Kurniawan mengatakan lokasi yang dijangkaunya itu sangat jauh dengan kondisi jalan yang rusak parah, dan licin. Iwan terpaksa hanya menggunakan sepeda motor trail melalui jalan berliku bersama dua putrinya yang diajak ke lokasi.

“Untuk menjangkau ke lokasi saya membutuhkan waktu dua jam dari posko. Alhamdulillah semua donasi dari teman-teman Stipoel’82 sudah saya berikan kepada pengungsi dengan keterbatasan situasi dan kondisi gelap gulita karena listrik belum normal, ditambah cuaca yang masih sering berubah-ubah secara cepat. Saya naek motor karena kedua anak saya tak suka guakan mobil. Di jalan kami diterpa angin pantai yang kencang, tapi kami terus bertahan,” kata iwan menarasikan betapa berat perjalanan yang ditempuh, terlebih bersama dua putrinya yang masih kecil.

Akhirnya bantuan sampai juga ke Desa Cisiih dan segera disalurkan kepada masyarakat pengungsi. “Ya perjalanan sungguh berat, saya gunakan tenaga teman saya di sana yang siap membantu. Saya mohon keiklasan keridhoaan uang yang teman-tema sudah donnasikan,” tutur Iwan.

Desa yang dituju Iwan Kurniawan memang tergolong terparah sebagai dampak tsunami. Semua hancur lebur.

Menurutnya, dulunya, sebelum terjadi bencana banyak orang berada di sana. Sekarang menjadi miskin. “Tak disangka sekarang mereka menerima bantuan, padahal sebelumnya mereka mugkin tak mau menerima bantuan.

“Banyak pelajaran yang dapat dipetik. Makanya, kalau kaya jangan sombong. Semua tak tahu apa yang bakal terjadi. Banyak yang bisa saya ambil di sini seperti cerita teman-teman Front Pembela Islam (FPI) di Cibaliung dan Cimanggu ketika menolong kenazah bercampur sampah,” tutur Iwan berbagi cerita di grup Whats App (WA).

Iwan yang akrab disapa Kumkum ini menambahkan belumlagi mayat-mayat tanpa busana di dalam reruntuhan cottage hotel. “Semoga kita yang ada di Stipoel 82 wafat dalam keadaan khusnul khotimah. Sebaik-baiknya kita, akan dinilai dengan bagaimana cara mati,” imbuh lulusan Fakultas Ilmu Politik Universitas Mustopo (Beragama) dan Bina Nusantara ini.

Butuh Biaya   

Kembali ke soal kondisi warga terdampak tsunami, di lokasi terlihat tumpukan pakaian bekas yang tak begitu dibutuhkan oleh masyarakat.

Saat ini, kata Iwan Kumkum, masyarakat lebih membutuhkan uang untuk biaya hidup dan recovery.

Sepanjang pantai Kecamatan Sumur yang berjarak 0-300 meter dari garis pantai dipastikan luluhlantak diterjang ombak. “Jika saya perhatikan masih banyak bangunan di atas 400 meter dari bibir pantai yang tak mengalami kerusakan, karena tak tersetuh oleh ombak. Pertanyaannya kenapa di lokasi itu banyak korban berjatuhan? Karena lokasi itu padat penduduk dan bangunan ditambah lagi saat itu banyak pelancong lokal dan domestik,” terang Iwan.

Tapi, menurut Iwan ekonomi di lokasi bencana itu mulai menggeliat. Di sana-sini, di bibir pantai sudah terlihat nelayan besar dan mampu mulai pengepul ikan-ikan asin yang dijemur. “Itulah makanya saya mengatakan masyarakat lebih butuh biaya buat recoveri membangun perekonomian. Kita berharap bantuan terus mengalir,” imbuh Iwan lagi.

Sementara Ketua Stipoel’ 82 Arif Efendi sebelumnya memang menyerahkan soal penyaluran bantuan dari Stipoel kepada Iwan dan disetujui oleh anggota karena Iwan memang sedang melakukan aktivitas sosial bersama grup pecinta alamnya di beberapa titik bencana. “Alhamdulillah Iwan sangat amanah sehingga bantuan yang kita kumpulkan dapat tersalur dengan baik,” tutur Arif. (Kds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *