BERITABUANA, JAKARTA – Semisal organisasi disajikan semeja makan penuh data yang siap santap, mana yang akan dipilihnya? Sepiring informasi relevan semestinya, dengan berbagai pertimbangan fundamental sesuai bisnis yang ditekuni. Lalu mana yang akan benar-benar disantap? Menetapkan in-process-out data yang benar-benar menjadi gizi bagi organisasi saat ini menjadi perkara yang tak terlalu mudah. Bukan karena kelangkaan sumber data melainkan justru karena melimpahnya.

Saat ini, data tak lagi semeja makan besar. Tapi sepenuh ruang makan berikut sampah di dapur yang kadang terikut dan membuat kotor. Dalam proses memvalidasi data yang relevan bagi perusahaan, banyak hal mendasar harus dijawab. Hubungan langsung upaya kecil di divisi penjualan dengan tercapainya target perusahaan, misalnya. Dalam penerapan strategi perusahaan, dikenal visi (atau misi), yang semestinya mudah dicerna dan menjadi cita-cita kerja. Betapa sumirnya vision statatement – sebagai contoh – “Memaksimalkan manfaat bagi para pemangku kepentingan”. Selain menjabarkannya ‘ribet’, tampak utopis, juga tidak ‘nempel’ (sticky). Pada tahun 1961 John F. Kennedy mengatakan “kita akan memberangkatkan manusia ke bulan dan membawa mereka pulang dengan selamat dalam satu dekade” – 3 komponen target sudah ada di dalamnya: pekerjaan (apa), kerangka waktu dan kualitas.

Apa yang menjadi indikator sukses pertumbuhan organisasi yang bisa dibaca melalui data? Dulu secara ‘serampangan’ bisa kita bilang ‘sales volume’ atau ‘number of customer’ adalah target utama kinerja. Di perusahaan besar yang harus meng’entertain’ banyak pihak (para pemangku kepentingan) data harus cukup mencengangkan agar mendatangkan pujian. Tapi ketika masa kini perusahaan skala kecil memulai benih untuk menjadi besar – usaha rintisan atau startup – dengan ukuran sangat kecil itu tak memerlukan apapun soal data dan performa, kecuali kejujuran.

Secara filosofis inilah yang harus dibuat terang. Mengapa? Kadang organisasi tidak cukup berani mengakui data brutal dari lapangan. Lalu terjebak dengan data menggembirakan – biarpun sampah. Contoh: dari sisi pengunjung (sebuah platform belanja misalnya), terus tumbuh bulan demi bulan. Dari sisi transaksi, kenaikannya separuh dari pertumbuhan jumlah pengunjung. Dari sisi keanggotaan, referral, dan kesediaan belanja berulang, data tak digali. Padahal pertumbuhan organisasi – dalam cara pandang pendapatan – tergantung dari informasi terakhir.

Tugas organisasi adalah memasang detektor-detektor pada simpul penting data yang diharapkan. Indikator ini akan mengirim sinyal yang tepat untuk mengevaluasi kinerja dan membuat keputusan. Pada tulisan berikutnya kita akan bahas pengumpulan dan pemanfaatan data terpenting bagi organisasi, yakni profil konsumen. (Aldo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here