BERITABUANA, MINAHASA UTARA  -Produsen minuman keras khas Minahasa Cap Tikus kini mulai bernapas lega. Pasalnya, minuman yang sudah menjadi konsumsi masyarakat Minahasa dari jaman dahulu kini sudah menjadi minuman berlebel resmi “Cap Tikus”. Bahkan, minuman ini sudah resmi dijual di konter di Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado.

Menanggapi adanya lebel resmi dari pemerintah daerah, Novi Poly, 54, salah seorang produsen cap tikus asal Desa Paslaten, Kec. Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, mengaku sangat senang.

Ditemui www.beritabuana.co di tempatnya memproduksi cap tikus di Kebun Doong, di Pegunungan Lembean yang berjarak 7 km dari Desa Paslaten, Novi sedang sibuk memasak saguer atau nira dari pohon aren (bahan baku) cap tikus.

Proses ambil sari minuman cap Tikus

Sekitar 130 botol nira dimasukan ke dalam wajan dari drum yang dibagi dua, kemudian dipanaskan dengan kayu tungkunya. Teknik sangat sederhana ini disebut menyuling, karena dari drum yang dipanaskan ditaruh bambu vertikal ke atas dengan diameter 30 cm setinggi 7 meter kemudian disambung dengan bambu lebih kecil ke samping (menurun) sepanjang 10 meter dan kemudian balik lagi sepanjang 11 meter ke dekat tungku. Sekitar 1,5 jam setelah tungku dipanaskan, barulah hasil sulingan mulai menetes di penampungan.

Selama 2 jam dipanaskan hasil cap tikus sebanyak kurang lebih 20 botol. Jadi Novi dalam sehari dua kali memasak, sehingga menghasilkan 40 botol cap tikus per hari.

Cap tikus hasil produksi Novi dibeli para pengepul seharga Rp 25 per botol, sehingga dalam sehari Novi bisa mendapatkan penghasilan kotor Rp 1 juta. Memang, kalau melihat hasilnya yang cukup lumayan tentu sangat menjanjikan, tapi tanpa kerja keras tentu tidak akan berhasil.

Seperti diceritakan Novi, dirinya yang sudah malang melintang selama 18 tahun menjadi produsen cap tikus telah berhasil membangun rumah dan menyekolahkan anak Pricilia Poly yang kini ketua Osis SMA Don Bosco Lembean dan adiknya Meicy Poly yang baru duduk di kelas l.

“Saya pernah bekerja di kapal di Ternate, tapi karena terjadi kerusuhan antaretnis, kami sekeluarga terpaksa mengungsi ke Manado,” kenang Novi menceritakan peristiwa berdarah yang sangat memilukan itu. Setibanya di kampung halaman, Novi yang beristrikan Mareyke Egeten ini kemudian punya tekad akan berusaha sendiri di kampung. (nico karundeng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here