BERITABUANA, JAKARTA – Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menjelaskan Gunung Anak Krakatau mengalami 37 kali letusan pada Kamis (3/1/2019) dari pukul 00.00 WIB, sampai dengan 24.00 WIB. Letusan juga disertai 42 kali hembusan dan tremor menerus dengan intensitas tebal setinggi 2.000 meter dari puncak kawah.

Informasi ini disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho yang dipostingnya melalui akun twitter resmi BNPB Indonesia, Jumat pagi (4/1/2019).

Dalam akun @BNPB_Indonesia itu, Sutopo menulis, letusan disertai hembusan asap kawah bertekanan sedang-kuat, warna putih, kelabu dan hitam, intensitas tebal setinggi 2.000 meter dari puncak kawah. Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus siaga (level III).

“Kami mengimbau masyarakat agar menjauh dalam radius 5 kilometer (km). Tetap tenang dan tingkatkan kewaspadaan. Jalur pelayaran Merak – Bakaheuni aman, tidak terpengaruh letusan,” tulisnya.

Selain itu Sutopo juga menyampaikan bahwa Gunung Anak Krakatau tidak akan meletus seperti ibunya yakni Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883. Jika ditemukan retakan pada Gunung Anak Krakatau hal tersebut dinilai wajar oleh Sutopo.

“Tahun 1883, tiga gunung di Selat Sunda (Gunung Rakata, Gunung Danan dan Gunung Perbuatan) meletus bersamaan. Letusannya besar dan menimbulkan tsunami besar setinggi 36 meter. Lalu gunungnya hilang. Lalu 1927 muncul Gunung Anak Krakatau (GAK). Tidak mungkin letusan GAK akan sama seperti tahun 1883,” tulisnya di media sosial.

Tulis Sutopo lagi, jika ditemukan ada retakan itu wajar pada gunung api pasca letusan. Selain itu, masyaraat diminta percaya dengan hasil yang disampaikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)

“Percayakan pada PVMBG selaku otoritas pemantau gunung api. Mereka punya alat, SDM, ilmu dan pengalaman,” imbuh Sutopo. (Aldo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here