BERITABUANA, JAKARTA – Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih cukup signifikan dan berpotensi bisa timbulkan longsor. Demikian dinyatakan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG), Rahmat Triyono.

BMKG pun memanfaatkan sensor-sensor seismograf untuk mencatat aktivitas dari Gunung Anak Krakatau itu. Pada saat kejadian 22 Desember kemarin sensor-sensor ini juga merekam, namun merekamnya bukan gempa bumi, dan sangat kecil memang, tidak ada manusia yang rasakan getaran itu.

Rahmat saat konferensi pers di gedung BMKG, Selasa (25/12) malam, menyebut dengan memanfaatkan seismograf tersebut diharapkan dapat memberikan peringatan kepada masyarakat di sekitar Selat Sunda.

“Karena itu dengan seismograf yang dimiliki BMKG, dengan mengepung Gunung Anak Krakatau diharapkan bisa mencatat kalau satu sensor mencatat itu setelah diatur akan mengeluarkan alarm. Kalau dua minimal tiga kita bisa mengetahui di mana posisi, sumber getaran itu tadi. Apalagi, kalau enam-enamnya mencatat,” tuturnya.

Menurut Rahmat Triyono, cara tersebut kemungkinan yang paling efektif untuk saat ini. Karana potensi longsor Gunang Anak Krakatau masih mungkin terjadi.

“Hingga dengan kami bisa memonitor gerakan itu tadi. Katakanlah pada 22 Desember kemarin setara dengan magnitudo 3,4, kalau ini mungkin 3,4 sampai 3,5 ke atas bisa jadi BMKG memberikan peringatan untuk sekitar Selat Sunda,” ujar Rahmat.

Selama ini peringatan BMKG dengan magnitudo yang cukup signifikan di atas 7. Karena ini goncangan tidak begitu besar bisa menimbulkan longsor, maka dengan sekitar 3,4 sampai 3,5 pihaknya akan memberikan peringatan untuk sekitar Selat Sunda.

Kemudian, setelah memberikan peringatan sekitar 1 jam kalau tidak ada air laut masuk atau tidak ada tsunami, maka BMKG akan segera menyatakan peringatan dinyatakan berakhir. (Daf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here