PERSOALAN pengaturan skor dalam sepak bola Indonesia, bukan barang baru. Dari tahun ke tahun persoalan ini selalu mencuat. Bahkan publik memvonis selalu bertenggernya mafia pengaturan skor, membuat persepakbolaan di Indonesia selalu terhambat maju. Polri sudah mencium hal itu, maka tak heran Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjadi ‘geram’. Karena di masa beliaulah, Polri nimbrung ingin memajukan persepakbolaan di Indonesia dengan Klub Bhayangkara FC. Nimbrungnya Polri langsung memahami, bahwa mafia skor sebagai penyebab utama tak majunya pesepakbolaan di Indonesia,  mau dibumihanguskan. Ia dengan tegas mengatakan, akan memimpin langsung  pemberantasan mafia skor di Indonesia.

Untuk mengetahui seperti apa indikasinya, atau wujudnya, dampak, serta cara mafia skor itu bermain — kemudian pengaruhnya terhadap persepakbolaan di Tanah Air, berikut wawancara wartawan www.beritabuana.co, Dadang Sugandi, dengan Manajer Klub Bhayangkara FC, AKBP Sumardji.

ILUSTRASI

Semoga Klub Anda Bhayangkara FC selalu Jaya?

Aamiin

Sebagai manajer klub Bhayangkara di Liga 1 Indonesia, Anda tentunya tahu atau mendengar adanya permainan skor di blantika sepak bola Indonesia?

Ya. Yang diramaikan sekarang dibicarakan soal adanya mafia pengaturan skor, sebenarnya bukan hal yang baru. Dalam sepak bola, misal saya sudah jalan empat tahun mengikuti, hal seperti itu pasti terjadi.

Artinya Anda paham?

Pengaturan skor itu, saya jelaskan. Bukan hanya terjadi di Liga 1 saja, tapi juga di Liga 2 dan 3. Semuanya berjalan menggunakan hal-hal yang demikian. Dan menggunakan mediator.

Seperti apa mediatornya?

Mediatornya, pertama adalah perangkat pertandingan, kedua, bisa juga melalui pemain, dan ketiga, bisa melalui official. Ketiga ini bisa terjadi karena ada sesuatu.

Maksud sesuatu?

Sesuatu yang saya maksud, adalah sesuatu hal yang disepakati. Artinya disepakati antara siapa dan siapa? Dengan tujuan untuk memenangkan pertandingan. Dalam hal ini tentu adalah permasalahannya.

Bisa disebutkan permasalahannya?

Ya, masalahnya itu adalah siapa yang nyuruh untuk memenangkan pertandingan itu, demi kepentingan si penyuruh.

Pihak penyuruh itu aktor intelektualnya?

Saya tak bilang aktor intelektual. Tapi penyuruh yang saya maksudkan, bisa bandar judi, atau hal lain, yang hanya ingin menaikan posisi klasemen, bisa juga macam-macam lainnya.

Bhayangkara FC pernah didekati si penyuruh atau mafia skor?

(Nada semangat) Mana berani dia (mafia) dekati Bhayangkara FC. Gak bakalan mau mereka. Tapi kalau melalui mediatornya mungkin saja untuk bisa berbuat seperti itu (ngatur agar sampai tujuan). Karena mereka berbuat itu kan untuk mencapai tujuan. Nah, tujuannya apa? Sama seperti yang saya sudah katakan. Misal mau ngubah peringkat — dari peringat ke-18, keperingat 1. Diatur lah cara-caranya, atau disiasatinya. Cara-cara itu yang digunakan oleh si pengatur skor.

Dibalik itu semua berujung kepada Uang?

Itu tergantung, tidak melulu soal uang. Bisa perkawanan dan pertemanan dan sebagainya. Lain hal jika yang menyuruh itu bandar judi. Ya, tak dipungkiri, semuanya bermuara kepada uang. Untuk apa lagi kalau bukan uang?

Anda sependapat, semua ini mempengaruhi kemajuan persepakbolaan di Indonesia?

Ya, iyalah. Jelaslah mempengaruhi. Bagaimana tak mempengaruhi (nada tinggi). Gini! Ibaratnya, klub-klub yang punya pemain bagus, berlatih dengan baik, tapi ketika pertandingan diatur.

Diatur bagaimana?

Diatur maksud saya disini. Bisa dikasih tendangan pinalti, atau dicari salahnya. Bisa juga dikasih kartu kuning sampai merah. Akibat itu berdampak psikologis. Pemain bisa marah. Trus karena marah mainnya jadi jelek. Seperti itulah.

Didominasi Liga 1 saja?

Tidak. Seperti itu tidak saja di Liga 1. Tapi semuanya. Semua Liga atau bisa disemua pertandingan berskala menentukan.

Ada klub yang benar-benar steril dari permain tersebut?

Kalau ada saya kepingin tahu. Kalau ada yang berani menyebut bahwa klubnya bersih, atau clear dan clean, saya kepingin tahu siapa sih. Saya kepingin tahu.

Artinya, tak ada klub yang bersih?

Saya ngomong nanti dianggap fitnah. Gini aja sampai saat ini kita susah menemukan klub yang clear dan clean (menggunakan kata tanda petik) , ‘tidak bermain-main dengan perangkat wasit dan lain-lain’.

Bagiamana dengan PSSI selama ini?

Memberantas mafia skor bukan hanya pekerjaan PSSI, tapi pekerjaan banyak pihak. Percuma PSSI berbuat, tapi mafianya itu gak mau berubah. Gak bisa. Kemudian sebaliknya, klub-klub berubah, tapi di federasi atau operator tak mau berubah, saya katakan tak bisa berubah juga.

Jadi solusinya gimana?

Begini. Ini semua kan erat kaitannya dengan kesejahteraan. Sebut saja dalam suatu pertandingan, siapa yang memimpin dalam suatu pertandingan. Kalau yang mimpin pertandingan, wasit misalnya.   Cuma dikasih kesejahteraannya Rp 1- Rp2 juta. Tentu dia nyari di luar itu. Kan gitu.

Anda sependapat dengan keinginan Kapolri berantas mafia skor?

Sangat setuju. Ya, ini bagi kita momen yang sangat istimewa. Seperti yang saya katakan tadi. Kita harus berubah. Kita akan susah jika begini terus. Misal kita punya pemain bagus, berlatih dengan baik. Tapi karena ada pengaturan itu saat bermain kalah. Akhirnya pemikiran mereka (pemain) jadi rusak. Mereka berpikir buat apa main baik. Begitu-begitu aja bisa menang. Nah, ini rusak semua kan. Jadi saya sangat sepakat dilakukan pembasmian tehahap mafia bola atau lebih dikenal sebagai mafia pengaturan skor. ******

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here