BERITABUANA, JAKARTA – Republik Federal Jerman, melalui KfW Development Bank, pada hari Rabu menandatangani perjanjian pembiayaan dengan United Nations Development Programme (UNDP) di Indonesia untuk mendukung masyarakat di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB) ) untuk pulih dari dampak bencana tahun 2018 dan menjadi lebih tahan terhadap guncangan di masa depan.

Berdasarkan perjanjian ini, KfW atas nama Pemerintah Jerman akan mengalokasikan €25 juta (sekitar US $28,4 juta atau 413 Milyar Rupiah) untuk membangun kembali fasilitas infrastruktur penting di Sulawesi Tengah dan NTB. UNDP akan mengelola inisiatif multi-tahun ini, yang berjalan selama 2019-2022 bekerja sama erat dengan BAPPENAS, BNPB, dan Pemerintah Provinsi, dan sejalan dengan Rencana Induk dan Rencana Aksi Rekonstruksi.

“Saya terkejut dengan besarnya kerugian dan kerusakan parah yang saya saksikan pada kunjungan terakhir saya ke Sulawesi. Karena itu saya sangat bangga dengan proyek penting ini, yang juga merupakan contoh solidaritas antar negara kami. Saya menantikan hasil yang cepat dan nyata,” kata Dr. Peter Schoof, Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste, dalam siaran pers yang diterima redaksi beritabuana, Kamis (13/12/2018).

Pada bulan Agustus 2018, pulau Lombok dilanda gempa bumi berkekuatan 7,0, menewaskan 564 orang, dan menyebabkan 400.000 orang kehilangan tempat tinggalnya. Gempa itu juga merusak lebih dari 70.000 rumah.

Bulan berikutnya, gempa berkekuatan 7,4 dan tsunami menghantam Palu dan sekitarnya, menewaskan lebih dari 2.000 orang, dan menyebabkan lebih dari 173.000 orang kehilangan tempat tinggalnya. Bencana juga merusak 68.000 rumah, 176 fasilitas kesehatan termasuk dua rumah sakit besar dan lebih dari 1500 gedung pendidikan.

Direktur UNDP Indonesia, Christophe Bahuet mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Jerman atas kontribusi keuangan yang diberikan kepada UNDP, yang akan membantu membangun kembali infrastruktur dan mendukung masyarakat di daerah yang dilanda bencana.

“Ketika memasuki fase pemulihan dan rekonstruksi, pendanaan dari KfW Development Bank akan menyediakan sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk proses rekonstruksi dan pemulihan infrastruktur publik, seperti kesehatan, pendidikan, pengelolaan limbah padat. Ini juga akan membantu masyarakat memulai kembali kegiatan ekonomi mereka dan menjadi lebih tahan terhadap guncangan di masa depan,” kata Bahuet.

Dia menambahkan bahwa Rencana Induk dan Rencana Aksi Rekonstruksi, yang sedang diselesaikan oleh Pemerintah Indonesia, akan memandu pelaksanaan proyek.

Bersama dengan badan-badan PBB lainnya, UNDP telah menerapkan program bantuan bencana yang cepat untuk mendukung upaya pemulihan pasca bencana 2018, dengan beberapa pendanaan berasal dari sumber daya UNDP sendiri dan Dana Tanggap Darurat Pusat PBB.

Bagian penting program ini adalah inisiatif cash-for-work UNDP untuk membersihkan puing-puing bangunan yang dilanda gempa, yang melibatkan ratusan orang yang selamat dari gempa di Palu. (Aldo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here