BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ulama selama ini dikenal sebagai tokoh atau pemimpin agama yang dapat mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dari berbagai macam masalah, baik masalah agama ataupun masalah yang dihadapi sehari hari lainnya seperti masalah dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Untuk itu masyarakat harus dapat menghormati dan menghargai para ulama sebagai guru yang dapat dipanuti.

“Dalam bahasa Arab, Ulama itu adalah orang yang mengetahui ilmu keislaman dan hanya takut kepada Allah. Jadi menghormati ulama di dalam Islam itu adalah suatu keharusan karena ulama itu adalah pewaris para Nabi. Karena Nabi itu tidak mewariskan uang, tidak mewariskan dinar, dirham ataupun harta, tetapi Nabi mewariskan ilmu yang ditularkan kepada para ulama,” kata Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Prof, Dr, KH. Ahmad Satori Ismail, MA, di Jakarta, Senin (10/12).

Selain itu menurutnya, ulama juga merupakan guru yang dapat merekatkan persatuan diantara kehidupan masyarakat. Karena dalam sejarah bangsa Indonesia sendiri, ulama juga dikenal sebagai guru bangsa yang tanpa lelah telah ikut membangun dan mempertahankan kedaulatan bangsa. Karena sampai sekarang pun ulama adalah para pejuang dalam merekatkan persatuan bangsa demi NKRI ini

“Ulama itu tidak hanya sekedar mengajarkan agama saja, tapi ulama juga sebagai contoh dan merupakan guru bagi masyarakat karena ulama juga mampu mempererat persatuan bangsa. Dan ulama itu tentunya juga bisa menyatukan para umat dan masyarakat pada umumnya serta tidak memecah belah,” katanya

Dirinya mengaku tidak terlalu melihat secara jelas jika akhir-akhir ini ada kelompok tertentu yang ingin meruntuhkan kredibilitas ulama atau adanya ulama yang tidak kredibel. Dirimya melihat para ulama baik yang ada di daerah-daerah maupun di perkotaan selama ini adalah para ulama yang benar-benar istiqomah di jalan Allah.

“Umpama kalau itu ada yang tidak kredibel ya mohon maaf, karena kriteria ulama di Indonesia selama ini masih juga masih belum jelas. Masyarakat awam kita ini kadang melihatnya ada yang asal bisa tahlil, asal bisa doa biasanya oleh masyarakat sudah bisa disebut ulama. Tentunya hal-hal yang seperti ini tentunya kritria yang tidak jelas. Padahal yang disebut ulama itu adalah ahli agama yang betul betul takutnya kepada Allah SWT,” kata pria yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Namun demikian dirimya tidak memungkiri jika ada seseorang yang juga mengaku sebagai ulama tetapi justru malah sering mengucapkan ujaran kebencian yang dapat menimbulkan perpecahan. Menurutnya, kalau ada manusia yang tergelincir lidahmya saat berbicara dengan menjelekkan orang tentunya diharapkan ucapannya itu bisa diluruskan

“Kalau ulama itu tentunya adalah orang-orang yang dalam ucapannya selalu baik, dalam berperilaku juga baik, yang tentunya sesuai dengan tuntunan Al Quran dan As Sunnah yang tentunya dengan mengambil contoh kehidupan dari Nabi, bukan malah berbicara menjelek-jelekkan,” kata Direktur Pascasarjana Pasca sarjana Universitas Islam As Syafi’iyah Jakarta ini.

Untuk itu dirinya berpesan agar masyarakat dapat memilih ulama yang dapat dijadikan panutan, karena bagi masyarakat sendiri dalam memilih ulama yang memiliki ilmu islamnya yang benar-benar dalam itu agak susah. Apalagi kalau masyarakatnya sendiri pamahaman agamanya juga awan apalagi jika dipengaruhi propaganda di media social yang sangat begitu masif yang dapat memecah persatuan bangsa

“Pemikiran masyarkat yang seperti inilah yang harus kita perbaiki bersama bagaimana masyarakat kita ini benar-benar mengerti tentang fungsi dan memahami tentang ulama. Apalagi dalam menghadapi tahun poltik ini kadang-kadang banyak hal yang disangkut pautkan dengan perpolitikan. Tentunya hal ini kadang-kadang menjadi semu tentang siapa ulama yang sedang berbicara tersebut,” ujar anggota Dewan Syariah Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Namun demikian dirinya tidak setuju jika para ulama tidak dipebolehkan berbicara dalam hal –hal masalah politik. Karena berbicara masalah politik itu sendiri juga merupakan suatu keharusan, tetapi berpoltiknya tentunya harus dengan cara yang baik dan tidak menjelek jelekkan orang lain.

“Bicara politiknya tentunya hal-hal yang benar, hal hal yang bisa mengangkat martabat dan harkat bangsa ini sehingga bangsa ini juga merasa terayomi oleh para ulama sehingga masyarkat sendiri akan merasakan manfaatnya ulama yang ada di tengah tengah masyarakat itu,” tuturnya.

Karena jika masyarakat sendiri merasa terayomi dengan kehadiran ulama maka secara perilmuan juga bertambah. Selain itu secara pengetahuan dan secara ekonomi juga menjadi baik sehingga kehidupan yang secara umum juga bertambah baik.

“Nah tentunya ini juga merupakan kewajiban dari para ulama sejak dahulu saat para ulama kita juga ikut serta dalam merebut untuk memerdekakan negeri ini dari penjajah. Sehingga ulama ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari unsur-unsur perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia ini, sehingga kita harus menghormati ulama,” kata Alumni Universitas Al Azhar Mesir ini.

Selain itu dirimya juga berpesan kepada para kelompok ormas-ormas islam bersama pemerintah untuk dapat mengangkat kembali kredibilitas ulama di masyarkat yang dapat dijadikan panutan ataupun guru sebagai perekat kehidupan dan persatuan bangsa dengan menyiapkan kader-kader ulama yang kredibel,

“Seluruh ormas islam harus dapat menyiapkan kader-kader ulama yang benar-benar mengerti terhadap ajaran islam secara utuh dan tentunya juga perilakunya, ucapannya merupakan pewaris para nabi. Tentunya ini kewajiban ormas islam di Indonesia dibantu pemerintah ini untuk melakukan persiapan-persiapan untuk itu. Bisa menyiapkan ulama itu bisa melalui sekolah sekolah, pesantren maupun dari sarana-sarana keagamaan islam lainnya,” ujarnya mengakhiri.(Lsw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here