BERITABUANA, JAKARTA – Calon legislatif(caleg) Muhammad Nurdin mengatakan, tidak pernah berjanji apalagi sampai mengobral janji ke masyarakat di daerah pemilihan (dapil)nya demi meraup suara pada pemilu legislatif (pileg) tahun 2019. Tetapi, janji yang di sampaikan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

“Jadi saya tidak muluk-muluk, lebih baik berterus terang saja, katakan bisa kalau bisa dan katakan tidak kalau memang tidak bisa,” ungkap Nurdin menjawab beritabuana di komplek parlemen Senayan, Jumat (7/12/2018) tentang kampanye pileg yang telah dan sedang dijalankan.

Pada pileg 2019, PDI Perjuangan kembali menunjuk Nurdin sebagai caleg dari dapil Jawa Barat X yang meliputi Kabupaten Banjar, Ciamis, Kuningan dan Pangandaran. Ketika pileg 2014, purnuwirawan komisaris jenderal Polisi ini juga caleg dari dapil yang sama.

Sayang, langkahnya tidak sampai ke Senayan, karena PDI Perjuangan hanya berhasil meraih 1 kursi yaitu Puti Guntur Soekarnoputri. Gagal menjadi anggota DPR bukan berarti Nurdin nganggur. Menteri Hukum dan HAM Yasona H Laoly memutuskan menarik dia sebagai salah satu staf khususnya.

Ketika Puti  mengundurkan diri dari DPR karena ditetapkan sebagai calon wakil gubernur Jawa Timur pada pilkada yang lalu, PDI Perjuangan menunjuk Nurdin sebagai anggota DPR pengganti antar waktu (PAW)  pada Januari 2018. Ini yang kedua bagi Nurdin mengisi kursi DPR  dari PDI Perjuangan yang lowong. Tahun 2007, dia juga dilantik sebagai PAW menggantikan Amris Hasan karena dipilih menjadi Dubes RI untuk New Zealand. Baru lah pada pemilu 2019 Nurdin berhasil lolos  menjadi anggota DPR RI dan duduk di Komisi III.

Terkait alasannya masih maju sebagai caleg di usia yang 72 ini, Nurdin menyatakan tidak lain karena dirinya masih banyak yang hendak diperjuangkan di DPR khususnya pada penegakan hukum dan keadilan.

“Masih banyak yang mungkin bisa saya salurkan,” kata dia seraya mengaku kalau dirinya tidak berbakat terjun ke dunia bisnis.

Nurdin mengaku sedikit mengalami kendala ketika berkampanye di dapilnya. Sebab seperti diketahui, umumnya masyarakat di Banjar, Ciamis, Kuningan dan Pangandaran bekerja sebagai petani dan sebagian kecil menjadi nelayan. Sementara selama ini dirinya berkecimpung di komisi hukum.

“Maka ketika ada keluhan atau aspirasi masyarakat disana soal petani dan nelayan, saya harus berkoordinasi dengan teman-teman PDI Perjuangan di Komisi IV,” ujar Nurdin yang pernah menjadi Kapolda Aceh dan Sumut.

Guna memantapkan pencalonan pada pileg 2019 nanti, Nurdin bercerita dia menggalang kembali  pemilih lamanya, yang telah ditinggal sekitar 3,5 tahun. Dia turun ke desa-desa menemui konstituen untuk minta restu dan dukungan  serta menjelaskan jika dirinya kembali dipercaya PDI Perjuangan sebagai caleg. Untungnya mereka itu menurut Nurdin masih menyambut dengan senang hati.

“Mereka masih welcome,” kata dia, lalu menambahkan, kalau ada pemilih lamanya yang sudah beralih ke caleg lain, itu tidak masalah, karena pemilu adalah soal pilihan. (Ndus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here