Dilarang Bercanda dengan Kenangan

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Sastrawan Akmal Nasery Basral merilis novel terbarunya, karya ke-14, yang berjudul Dilarang Bercanda dengan Kenangan_di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Depok, Kamis (6/12)

Acara Peluncuran dan Bedah Novel Dilarang Bercanda dengan Kenangan (DBDK) dengan pembahas Ibnu Wahyudi (dosen FIB UI) dan Ana Mustamin (Pemimpin Redaksi Majalah MAJAS), dengan moderator Elba Damhuri (Redaktur Pelaksana Republika Online).

“Ini novel pertama saya untuk genre romance,” ujar sastrawan yang sebelumnya dikenal sebagai penulis novel sejarah seperti Nagabonar Jadi 2 (2007), Sang Pencerah (2010, tentang KH Ahmad Dahlan), Presiden Prawiranegara (2011, tentang Mr. Sjafruddin Prawiranegara), dan Tadarus Cinta Buya Pujangga (2013, tentang Buya Hamka).

DBDK berkisah tentang pengalaman seorang mahasiswa Indonesia alumni IPB bernama Johansyah Ibrahim yang sedang memperdalam ilmu komunikasi dan media di University of Leeds, Inggris, ketika bertemu lagi dengan ‘cinta masa kecilnya’ dan pada saat yang berbarengan dengan ‘cinta masa depannya’.

Tarik menarik pesona kedua wanita itu membuat Jo nama panggilannya mengalami sejumlah peristiwa yang mempertajam pemahaman dan wawasannya tentang arti hidup, karier, cinta dan rumah tangga.

Novel yang mengambil setting lokasi di sejumlah kota (Leeds, London, Jakarta, Banda Aceh, Kaimana/Papua, Madinah dan Makkah) ini juga mendapat latar belakang paruh kedua era 90-an di tanah air, khususnya saat Krisis Moneter 1997 dan Reformasi Mei 1998. Background sosial-politik ini dipengaruhi oleh pengalaman Akmal sebagai wartawan dua majalah berita selama 16 tahun (1994-2010) selain latar belakang pendidikan Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia.

“Idenya segar dengan penyampaian story telling yang menarik karena tak hanya berkisah tentang rasa cinta dalam dimensi personal yang lazim dialami manusia, melainkan juga tentang rasa cinta dalam dimensi sosial dan kultural, karena novel ini memberikan banyak subplot yang membuat pembaca merenungkan dimana posisi identitasnya dalam konteks sosial baik nasional maupun internasional,” tutur Syahruddin El Fikri, Direktur Republika Penerbit yang menerbitkan novel ini.

Novel DBdK tersedia di toko buku di seluruh Indonesia mulai Senin, 10 Desember 2018.(Lsw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *