BERITABUANA.CO, JAKARTA – Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Noor Rochmad sangat mengapresiasi terhadap putusan majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Batam yang menjatuhkan hukuman mati ke-tujuh pemasok (bandar) narkoba di Pulau Batam. Sedangkan satu terdakwa hanya dihukum seumur hidup.

“Selaku jaksa kami sangat mengapresiasi vonis tersebut, karena memang faktanya para pelaku merupakan bagian dari sindikat peredaran narkotika internasional,” kata Noor Rohmad yang dihubungi menanggapi putusan tersebut, di Jakarta, Sabtu (1/12).

Menurutnya, barang bukti yang diselundupkan ke Pulau Batam jumlahnya sangat fantastis, bukan hanya hitungan gram atau kilogram tetapi sudah dalam hitungan ton.

“Bayangkan, berapa ribu anak bangsa yang menjadi korban apabila sempat dipakai barang haram tersebut,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Dedi Setiadi, Direktur Narkoba dan Zat Adiktif lainnya pada Kejaksaan Agung.

“Kerja keras tim jaksa untuk membuktikan perbuatan para terdakwa sebagai sindikat pengedar narkotika menyelundupkan narkoba jenis sabu ke Pulau Batam ternyata membuahkan hasil maksimal terbukti majelis hakim PN Batam sepakat dengan tuntutan jaksa,” kata Dedi menambahkan.

Dikatakan, pihaknya akan terus bersikap tegas dalam mengambil tuntutan maksimal terhadap para sindikat narkoba yang menyelundupkan dan mengedarkannya di Indonesia.

“Terhadap salah satu terdakwa yang divonis seumur hidup, kami akan Banding,” ungkap Dedi Setiadi.

Seperti diketahui pada Kamis (29/11) dalam sidang pertama kasus penyelundupan 1,6 ton sabu, majelis hakim yang diketuai Muhammad Chandra dan didampingi hakim anggota Redite Ika Septina dan Yona Lamerosaa Ketaren menjatuhkan vonis mati untuk terdakwa Chen Hui, Chen Yi, Chen Meisheng, dan Yao Yin Fa.

Dalam putusannya yang dibacakan secara bergilir oleh majelis hakim, empat terdakwa yang merupakan warga negara China dinyatakan terbukti melanggar hukum sebagaimana dalam dakwaan primer dan subsider.

Dalam dakwaan primer yakni pasal 114 ayat 2 Jo pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Dan subsider pasal 113 ayat 2 Jo pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 209 tentang narkotika, serta lebih subsider pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Majelis hakim menyatakan perbuatan keempat terdakdwa mengakibatkan citra Indonesia menjadi buruk di dunia internasional karena seolah-olah Indonesia jadi lahan empuk peredaran narkotika.

Hakim juga menyebutkan tidak ada alasan meringankan karena selama selama persidangan, empat terdakwa tidak mengakui perbuatannya menyelundupkan atau membawa 1,6 ton sabu masuk ke Indonesia, serta selama persidangan memberi keterangan yang berbelit-belit kepada majelis hakim.

Sementara pada sidang kedua, kasus penyeludupan 1,3 sabu dengan empat terdakwa, majelis hakim yang sama menjatuhkan vonis mati terhadap tiga terdakwa yakni Chen Chung Nan, Chen Chin Tun, dan Hsieh Lai. Sementara satu terdakwa yakni Huang Hing An dijatuhi hukuman penjara semur hidup.

Majelis hakim menyatakan tiga terdakwa yang divonis mati terbukti melanggar hukum sebagaimana dalam dakwaan primer sebagaimana diancam pasal 114 ayat 2 Jo pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Kemudian subsider pasal 113 ayat 2 Jo pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 209 tentang narkotika, serta lebih subsider pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Sedangkan terdakwa Huang Hing An hanya dikenakan pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Seperti sidang perkara sebelumnya, hakim juga menilai tidak ada hal yang meringankan masing-masing terdakwa, karena terbukti membawa atau menyelundupkan masuk narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 1,3 ton ke wilayah Indonesia dengan melawan hukum. Oisa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here