BERITABUANA, JAKARTA – Dua Hakim Pengadilan Negeri(PN) Jakarta Selatan yang ditangkap KPK karena dugaan korupsi sungguh memalukan. Bahkan, kelakuan mereka jadi bahan tertawaan, karena uang yang diterima itu termasuk kecil jika dibanding dengan reputasinya sebagai seorang hakim.

“Saya kira kelakukan kedua hakim yang ditangkap KPK kemarin bahan tertawaan, uang kecil pun disikat. Pada hal, gaji hakim kan gak kecil-kecil banget,” ujar pengamat dan penggiat anti korupsi, Adilsyah Lubis menjawab beritabuana di Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Dia merasa heran dan mempertanyakan alas an hakim tersebut mau menerima uang dari pihak yang sedang berperkara. Uang yang mereka itu kata Adilsyah telah merusak karir dan repuatsinya sebagai seorang hakim.

“Hakim dengan karir yang bagus, tetapi koq masih mau menerima uang suap ? Gaji hakim kan tidak kecil. Apa mereka memang rakus ?” kata dia bertanya.

Adilsyah pun mempertanyakan harga diri dan moralitas mereka sebagai hakim. Hakim di PN memiliki reputasi yang prestius atau bergengsi, dan mereka telah digaji dan mendapat fasilitas yang semakin baik, tetapi mereka ditangkap KPK karena diduga menerima uang suap.

“Uang segitu masih diembat. Apa sebetulnya alas an mereka ? kalau dibilang terdesak ekonomi, menurut saya tidak. kalau dibilang karena sedang kesulitan keuangan, juga tidak. Tetapi mereka mau menerima uang haram, mau menerima uang kecil,” bebernya sambil geleng-geleng kepala.

Oleh sebab itu, Adilsyah menduga, kelakukan kedua hakim itu karena rakus dan mental kriminal. Perbuatan mereka kata Adulsyah telah mencoreng wajah lembaga peradilan kita, karena semakin menambah daftar hakim yang ditangkap KPK karena kasus korupsi.

“Ini aib di dunia peradilan kita,” ujarnya.

Hakim Iswahyu Widodo dan Irwan di cokok penyidik KPK pada Selasa malam lalu dari kediaman masing-masing. Selain mereka, KPK juga telah menetapkan dan menahan panitera pengganti M Ramadhan karena diduga ikut menerima suap. Begitu juga dengan pemberi suap, yakni pengacara Arif F dan Martin PS telah ditahan. Uang yang diberi itu diduga terkait penanganan perkara perdata antara penggugat dan tergugat yang telah di daftarkan di PN Jaksel. (Ndus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here