Dihadapan Komisi V DPR, Kepala Basarnas Jelaskan Operasi SAR Lion Air Sesuai SOP

BERITABUANA, JAKARTA – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syaugi menegaskan bahwa operasi SAR terhadap pesawat Lion Air JT-610 sudah berjalan sesuai standar operating procedure (SOP).

Hal ini disampaikan Syaugi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR yang dipimpin Ketua Komisi V DPR Fary Djemy Francis di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (22/11/2018).

Syaugi menyatakan, pemerintah Indonesia hadir secara maksimal dalam pelaksanaan operasi SAR secara terpadu. Bersinergi antara Basarnas dengan didukung oleh seluruh unsur yang terlibat, baik dari TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, KNKT, BPPT, Pertamina, PMI, instansi lain serta organisasi relawan dan masyarakat.

“Hal yang perlu dicatat adalah bahwa operasi SAR tersebut sudah berjalan sesuai SOP,” kata Syaugi lagi.

Rapat memang diagendakan untuk mendengarkan penjelasan terkait penanganan kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta – Pangkal Pinang, yang mengalami hilang kontak dan jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa barat 29 Oktober lalu.

Sebanyak 189 orang penumpang pesawat ini meninggal dunia. Dalam rapat, Syaugi menyampaikan secara rinci pelaksanaan oeprasi pencarian dan pertolongan terhadap korban pesawat yang naas itu.

Syaugi menyatakan, pelaksanaan operasi SAR terhadap pesawat Lion Air JT-610 dilaksanakan selama 13 hari non stop, yaitu mulai tanggal 29 Oktober sampai dengan 10 November 2018.

Upaya pencarian dan penyelamatan korban dilakukan dengan mengerahkan seluruh unsure SAR yang ada dan didukung dengan Potensi SAR yang tersedia, baik unsure darat, laut maupun udara.

“Total personil SAR gabungan dan pendukung yang dikerahkan berjumlah sekitar 1324 orang termasuk 151 orang penyelam, terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPPT, KNKT, BMKG, Kemneterian Perhubungan, Kementerian Keuangan, pertamina, PMI dan organisasi selam professional,” jelasnya.

Selain itu, tambah dia, Basarnas juga mengerahkan alut udara, alut laut serta ambulans. Tentang kesulitan yang dihadapi, Syaugi mengungkapkan, kendala alam yang dihadapi adalah kondisi medan operasi SAR yang sulit diprediksi yaitu arus permukaan maupun arus dasar laut, disamping endapan lumpur di dasar laut yang cukup tebal dan sangat mempengaruhi visiliti dalam usaha pencarian korban di kedalaman laut.

Dari hari kelima sampai hari ketiga belas, tanggal 2 November 2018 sampai dengan 10 November 2018, tim SAR gabungan kata Syaugi berhasil mengevakuasi total 196 kantong jenazah, bagian-bagian besar dari pesawat berupa roda pendarat, mesin pesawat dan properti-properti milik korban. (Ndus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *