BERITABUANA, JAKARTA – Politisi muda PDI Perjuangan Kota Bekasi, Ahmad Faisyal Hermawan memanfaatkan masa kampanye pemilu 2019 sebaik-baiknya. Maklum saja, pada pemilu 2014 silam, dia belum beruntung menjadi anggota DPRD Kota Bekasi. Harapannya, untuk pemilu tahun depan, dia bisa lolos menjadi wakil rakyat di kotanya.

Terlebih, Faisyal saat ini tercatat sebagai calon legislatif (caleg) PDI Perjuangan DPRD Kota Bekasi dengan nomor urut 1.

“Saya turun ke masyarakat untuk sosialisasi, memperkenalkan diri sekaligus bersilaturahmi ke simpul-simpul masyarakat termasuk dengan pengurus RT, RW, Karang Taruna maupun Majelis Taqlim,” ujar Faisyal yang dihubungi beritabuana, Kamis (25/10/2018).

Pria kelahiran Jakarta tahun 1985 ini pun membuka posko. Tujuannya tidak lain untuk memantapkan pencalonannya pada masa kampanye sekarang.

Di posko itu, Faisyal bersama tim suksesnya melakukan edukasi ke masyarakat tentang tupoksi DPRD.

“Kita menjelaskan apa saja yang menjadi tugas pokok dari DPRD, masyarakat harus memahami dan mengetahuinya,” ujar Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi ini.

Karena itu juga, Faisyal mengaku selama bertemu dengan masyarakat dirinya tidak pernah mengumbar janji-janji politik yang berlebihan. Tetapi dia selalu menegaskan, perlunya anak-anak muda mendapat dukungan sehingga akan jauh lebih baik memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakat di DPRD, selain adanya regenerasi di lembaga DPRD.

“Kalau dari segi umur sekarang, maka saya masih bisa ikut lima kali pemilu lagi, sehingga jika terpilih harus berbuat yang terbaik lah ke masyarakat. Jika selama 5 tahun bekerja baik sesuai tupoksi, tentu masyarakat mempercayai saya,” terang Faisyal yang saat ini berusia 32 tahun.

Sebab tambah dia, sudah ada beberapa contoh, politisi yang tidak bekerja dengan baik ternyata akan tersingkir pada pemilu berikutnya.

“Saya pikir masyarakat kita sudah cerdas,” ujarnya.

Satu hal yang menjadi catatannya sebagai caleg adalah menghadapi beragamamnya tingkah laku masyarakat. Maksudnya ? Menurut dia ada saja masyarakat yang ditemui atau yang datang menyampaikan permintaan, yang kadang diluar kemampuan mengatasinya.

Misalnya, kalau untuk mentraktir makan dan ngopi-ngopi, itu masih bisa diatasi. Tetapi jika permintaan yang menurutnya tidak masuk akal, maka dia tidak berani membuat janji. Terlebih Faisyal bukan lah calon petahana.

“Jadi caleg, kalau gak kuat-kuat banget, bisa stroke, malah bisa stroke karena menghadapi problematika di lapangan,” pungkasnya. (Ndus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here