BERITABUANA, JAKARTA- Pengamat Militer Susaningtyas Kertopati mengatakan bahwa pembenahan TNI kedepan harus diutamakan. Sebab, lewat peningkatan kompetensi dan kapasitas prajurit TNI diharapkan bisa menjadi scholar warrior.

“Kompetensi prajurit TNI harus mencapai tingkatan setara dengan kompetensi prajurit negara maju. Kapasitas prajurit TNI harus mencapai tingkatan intelektual akademik melakukan analisis berbagai operasi militer secara ilmiah,” kata Susaningtyas lewat keterangannya, Jumat (5/10).

Ia menuturkan, pembenahan TNI juga diarahkan untuk mencapai efisiensi organisasi agar lebih responsif dalam menghadapi berbagai jenis ancaman mulai dari ancaman militer, ancaman non-militer dan ancaman nirmiliter.

“Organisasi TNI harus dibenahi agar struktur dan posturnya lebih tanggap mengantisipasi perkembangan lingkungan strategis global, regional dan nasional,” ujar Nuning sapaan akrab Susaningtyas.

Sementara, di kancah internasional, lanjut Nuning selain hard power dan soft power, Indonesia juga dapat mengoptimalkan smart power.

“Sebagai anggota tidak tetap DK PBB, maka Indonesia sebagai ASEAN leader dapat memperkokoh jejaring dengan berbagai negara dan organisasi internasional yang menangani global security,” tuturnya.

Untuk smart power, Indonesia dapat dijabarkan ke dalam berbagai program aksi ASEAN Political-Security Community (APSC) untuk mewujudkan perdamaian di berbagai belahan dunia yang dilanda konflik. Periode 2019-2020 dapat menjadi peluang Indonesia menjadi global player yang sesungguhnya sebagai penjaga perdamaian dunia.

“Smart power dapat ditunjukkan dengan memberi kesempatan beberapa Perwira Tinggi TNI untuk menjadi komandan misi PBB, seperti Perwira Tinggi TNI AL berbintang tiga sebagai Komandan Maritim Misi PBB di Libanon (UNIFIL Maritime Task Force Commander),” ucapnya.

“Promosi jabatan tersebut juga sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia untuk berperan aktif menjaga perdamaian di Timur Tengah,” sambungnya.

Soliditas TNI-Polri

Dalam HUT TNI ke-73 ini, Nuning mengatakan bahwa pada tahun politik ini soliditas TNI dan Polri merupakan suatu keniscayaan. Netralitas, lanjut dia adalah hal yang harus dilaksanakan secara konsisten dengan berbagai konsekwensinya.

“Perebutan kekuasaan akan memunculkan ruang perdebatan yg menjurus pada perang urat syaraf yg sedikit kepleset saja bisa jd tragedi permusuhan. Hal ini harus diantisiapasi jauh hari. Pihak yang dapat mencegah dan menanggulangi ini adalah TNI Polri,” kata Nuning.

Bahkan, dalam era kekinian, TNI harus mampu menjaga tertatanya dengan baik mulai dari integrasi sistem informasi, interoperability sistem informasi hingga composability sistem informasi.

“Semua itu agar informasi perkembangan keadaan yg ada dapat terintegrasi dan diterima dgn tepat cepat oleh prajurit utamanya yg berada dilapangan sehingga tak ada kesalah pahaman,” tutup mantan Anggota Komisi Pertahanan DPR RI ini. (Mar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here