BERITABUANA, MALANG – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid memperoleh sambutan meriah, dari para santri, ustad dan pengasuh pondok, saat berkunjung di ponpes Daarul Ukhuwah Desa Asri Katon, kecamatan Pakis, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (5/10/2018).

Ratusan santri sembari memegang bendera merah putih, membuat pagar betis dan mengelu-elukan kedatangan Hidayat di tempat mereka belajar. Bahkan saat hendak meninggalkan pondok pun, para santri berebut untuk berjabat tangan dengan Wakil Ketua MPR.

Kedatangan pria kelahiran Klaten Jawa Tengah di pesantren Daarul Ukhuwah, itu terkandung maksud untuk menyampaikan sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Tetapi Hidayat tidak sendirian, ia datang bersama Anggota Fraksi PKS MPR RI Dr. Mardani Ali Sera.

Saat menyampaikan sosialisasi, Hidayat Nur Wahid antara lain mengatakan, persoalan Islam dan kebangsaan sudah selesai, sejak lama. Karena itu tidak perlu lagi ada keributan yang menyoal tentang Islam dan ke Indonesiaan. Apalagi, lahir dan berdirinya negara Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kiprah dan keikut sertaan umat Islam, khususnya para kyai dan ulama.

“Negara Indonesia bisa berdiri tegak, salah satunya karena kerelaan para ulama menerima penghilangan tujuh kata dalam piagam Jakarta, sehingga menjadi Pancasila seperti yang ada saat ini. Padahal, bisa saja mereka bersikukuh mempertahankan piagam Jakarta, dengan alasan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam,” kata Hidayat menambahkan.

Tetapi, para ulama tidak bersikap arogan. Mereka memilih mengalah, dan menerima kesepakatan untuk menghilangkan kata dengan melaksanakan syariat agama Islam bagi pemeluknya, semata-mata karena menghendaki Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus, itu tetap utuh, dan tidak terpecah belah.

Karena itu, Hidayat berharap tidak ada lagi selisih pendapat menyoal Islam dan Indonesia. Serta tidak ada pula ketakutan terhadap Islam dan ke Indonesiaan itu sendiri. Karena faktanya, Islam dan Indonesia memang sudah tidak ada persoalan.

“Karena itu MPR terus melakukan sosialisasi Empat pilar, termasuk dikalangan santri dan pondok pesantren. Agar tidak ada lagi anak santri yang bilang bahwa Indonesia itu bid’ah, karena berdemokrasi. Faktanya, dalam urusan muamalah, semua boleh kecuali ada dalil yang melarang,” katanya lagi. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here